Yang Merekah di Desa Wisata Mekarlaksana

Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian
Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian dan persawahan, di Kampung Cilopang, Desa Mekarlaksana, Kabupaten Bandung, Kamis (30/10). (Muhamad Nizar/Jabar Ekspres).
0 Komentar

Semangat Merawat Seni

Seusai menjelajah kampung kelahiran Siti serta menjalani edukasi persawahan. Destinasi selanjutnya ialah sanggar seni beladiri. Sepelemparan batu dari Kampung Cilopang, para wisatawan berkunjung ke Paguron Putra Mekar Panggugah di Kampung Gorowek, Desa Mekarlaksana.

Perguruan silat yang sudah berdiri sejak 1989 itu kini bergabung dengan kegiatan desa wisata. Tak hanya menyaksikan pertunjukan silat, wisatawan diberikan wawasan terkait filosofi seni beladiri. Serti memiliki kesempatan untuk memeragakan sejumlah jurus sambil diiringi alat musik tradisional.

Ketua Paguron Putra Mekar Panggugah, Heri Sanjaya menilai, langkah yang diambil padepokan beladiri ini murni untuk terus merawat seni. “Sangat bersyukur sekali dapat berbagi kepada orang-orang luar (desa) soal seni di Mekarlaksana,” ucapnya.

Baca Juga:Lebih Pintar Tapi Tak Laku, Gen Z Jadi Pengangguran Terbanyak di JabarInvestasi Deras, Tenaga Kerja Seret: Pengangguran Jabar Tembus 1,78 Juta Orang

Semangat merawat pun menular ke bidang kesenian lain di desa tersebut. Penerus padepokan generasi keempat itu menyebut, misalnya kesenian reak yang turut menjadi salah satu destinasi bagi para pengunjung. Desa Wisata Mekarlaksana menumbuhkan asa lestarikan budaya dan tradisi para pegiat seni.

“Alhamdulillah aktif semua sekarang. Jadi kalau dalam Bahasa Sunda-nya mah ‘mun lain ku urang, edek ku saha deui?’ Jadi kalau nggak kita yang melestarikan, siapa lagi?” tanyanya.

Pada akhirnya, lanjut pria berusia 37 itu, para pegiat seni di Mekarlaksana bukan sekadar merawat dan melestarikan warisan budaya generasi terdahulu. Bukan juga hanya menanti undangan acara seni maupun kompetisi seni beladiri. Melainkan, kini mereka sembari memaparkan sejarah peninggalan nenek moyang mereka bagi wisatawan dari luar daerah.

Semangat mereka disambut pemerintah dan BI Jabar yang sempat memberi pembekalan, serta kebutuhan sarana prasarana. “Kami lebih terarah. Banyak (dihubungkan) pakar, pendekar juga ahli-ahli tentang silat di Indonesia. Mudah-mudahan dengan adanya ‘jembatan’ seperti Desa Wisata Mekarlaksana juga bimbingan dari BI, kami semakin meluas dan terawat,” paparnya.

Jauh Sebelum Desa Wisata

Pemberdayaan masyarakat dan menumbuhkan ekonomi desa, kedua alasan ini sudah cukup bagi Gunawan untuk mengembangkan kampung kelahirannya sebagai desa wisata. Sekira lima tahun lalu, pemuda berusia 27 tahun itu merangkul para anak-anak muda serta akademisi. Tidak berusaha menciptakan kebaruan. Mereka hanya melanjutkan sesuatu yang sudah berjalan.

0 Komentar