“Tarian ini menggambarkan sosok Gandamanah dalam cerita pewayangan, dengan gerakan gagah dan penuh semangat,” paparnya.
Retno menambahkan, Sakola Budaya bukan hanya menjadi sarana pengenalan budaya, melainkan juga mendorong peserta untuk mengolah pengalaman menjadi karya populer dan konten digital.
Dengan begitu, kata Retno, budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan zaman.
Baca Juga:7 Terminal Bus Terpopuler di Indonesia, Anda Wajib Tahu Sebelum Cek Harga Tiket Bus Online6 Cara Ikuti BRI Super League Tanpa Harus Menonton Setiap Pertandingan
“Kami ingin siswa tidak sekadar menjadi penonton budaya, tetapi juga kreator yang mampu menghidupkan kembali nilai-nilai budaya sesuai zamannya,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, yang turut hadir dalam kegiatan ini, mengapresiasi pelaksanaan Sakola Budaya.
Menurutnya kegiatan tersebut sebagai langkah penting membangun kesadaran kebudayaan di kalangan generasi muda. “Kabupaten Cirebon sangat kaya akan potensi budaya, baik Objek Pemajuan Kebudayaan maupun Cagar Budayanya,” ujarnya.
Dia pun berharap, melalui kegiatan itu, anak-anak bisa membaca dan menafsirkan kembali warisan budaya sesuai pemahaman mereka.
“Kegiatan ini menjadi wadah membangun jejaring antar pelajar dari berbagai daerah di Jawa Barat untuk terus berdiskusi, berkolaborasi, dan menyuarakan pentingnya pelestarian budaya,” tandasnya.
Salah satu peserta, Nur Rahma, siswa SMA Negeri Bantar Kalong, Kabupaten Tasikmalaya, mengaku memperoleh pengalaman berharga dari kegiatan ini.
Menurutnya, Sakola Budaya memberi kesan mendalam tentang pentingnya nilai budaya di tengah arus budaya luar. “Dari Sakola Budaya timbul kebanggaan bahwa budaya Cirebon ini menggambarkan nilai adiluhung para pendahulu kita dan bagaimana generasi muda menyikapinya di tengah arus budaya luar yang masuk ke kita,” ungkap pemenang kategori artikel terbanyak di Sakola Budaya 2025.
Baca Juga:BPJS Ketenagakerjaan Gelar Lomba Karya Tulis Jurnalistik 2025 dengan Total Hadiah Ratusan Juta RupiahCegah Dislipidemia dan Obesitas, Para Dosen dan Tendik UNJANI Diedukasi Cara Olahraga Teratur dan Terukur
Sakola Budaya didesain sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menyalurkan potensi dan bakat mereka, mulai dari menulis, berkesenian, melukis, hingga menciptakan konten bertema warisan budaya.
Melalui kegiatan semacam ini, BPK Wilayah IX berharap muncul generasi penerus yang mampu menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Karena peran mereka sangat penting sebagai pewaris dan penjaga warisan budaya di masa depan. (*)
