Dia pun mengenang masa-masa awalnya yang serba sederhana. Dulu, ia hanya bisa melatih burung dengan sepeda motor tua. Tapi lewat kesabaran dan ketekunan, satu per satu impiannya terwujud.
“Dulu saya cuma bisa ngelatih burung pakai motor. Sekarang alhamdulillah, bisa punya motor bagus, bisa beli mobil pribadi, bahkan mobil khusus untuk burung,” kenangnya.
Burung-burung yang dulu hanya bisa ia impikan kini sudah berada di tangannya: Lorenzo, German, Dewa Mabuk, dan Hotman.
Baca Juga:Melangkah Bersama untuk Indonesia: Semangat Trisakti Bakal Menggema di BandungKorps Alumni KNPI Jabar: Pemuda Harus Jadi Pelaku Perubahan, Bukan Penonton!
“Burung-burung itu dulu cuma saya lihat dari jauh. Sekarang bisa kebeli dari hasil jual piyikan, tabungan, dan kerja keras. Rasanya luar biasa,” ujarnya haru.
Baginya, kemenangan bukan hanya ketika burung kesayangannya mendarat, tapi ketika ia pulang ke rumah dan melihat istri serta anaknya tersenyum bangga.
“Kalau amplop hadiah saya kasih ke istri, biasanya dia langsung bilang: ini buat rokok Om, dia bagikan, kalau istilahnya oteng. Saya senang, karena itu bentuk kebersamaan. Keluarga ikut senang, bukan cuma saya,” tuturnya.
Dia pun percaya, keberhasilan tidak lahir dari sekadar latihan dan strategi, tapi dari doa dan restu orang-orang yang mencintai kita.
“Burung juara itu rezeki. Tapi rezeki yang sesungguhnya adalah keluarga yang selalu mendoakan,” pungkasnya.(win)
