“Jakarta belum bisa memberi subsidi di luar 15 golongan tersebut, apalagi setelah DBH kami dipotong,” ujar Pramono di Balai Kota, Rabu (29/10).
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menambahkan bahwa tarif sebenarnya Transjakarta mencapai Rp13.000 per penumpang jika tanpa subsidi pemerintah daerah.
Artinya, Pemprov menanggung sekitar Rp9.700 per orang, agar masyarakat tetap bisa menikmati tarif murah Rp3.500.
Baca Juga:Moto X70 Air Resmi Meluncur! Ponsel Setipis Pensil yang Siap Saingi iPhone Air dengan Harga Lebih MurahGeger Awan Hitam Beterbangan di Subang, Awan Kinton?
“Kami sedang melakukan pembaruan data terkait kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar (ATP–WTP). Karena elastisitas tarif terhadap jumlah penumpang sangat tinggi,” ungkap Syafrin.
Ia menegaskan, kenaikan tarif nantinya akan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, agar tidak menurunkan jumlah penumpang atau mengganggu akses masyarakat terhadap transportasi publik.
Kenaikan Tarif Transjakarta Pertama Kali Sejak 2005
Sebagai catatan, tarif Transjakarta terakhir naik pada tahun 2005, dari Rp2.000 menjadi Rp3.500 per penumpang.
Selama dua dekade, harga tiket tidak pernah berubah meski biaya operasional meningkat signifikan akibat inflasi, penambahan rute, dan perbaikan layanan.
Kini, setelah 20 tahun, kenaikan tarif Transjakarta tampaknya tak terelakkan demi menjaga keberlanjutan layanan dan efisiensi anggaran.
Namun, Pemprov DKI memastikan kelompok rentan tetap akan menikmati transportasi gratis, sementara penyesuaian tarif dilakukan secara proporsional.
