Ia mencontohkan, banyak pemuda yang lebih tertarik menjadi pegawai kantor atau ASN, namun masih sedikit yang bercita-cita menjadi petani milenial.
Padahal, sektor pertanian dan peternakan masih sangat potensial untuk digarap oleh generasi muda.
“Saya belum mendengar secara lantang ada yang bilang, ‘Saya pengen jadi petani.’ Nah, ini tugas Dinas Pertanian untuk menggugah dan mengajak mereka,” ucapnya.
Baca Juga:Bupati Bandung Tegaskan Parkir di Lingkungan Pemkab Gratis, Satpol PP Siap Tertibkan Jukir LiarAtasi Banjir Kopo Sayati, Bupati Bandung Rencanakan Pembangunan Embung Seluas Dua Hektare
Kang DS pun menilai, keberhasilan pemuda dapat tercapai bila mereka memiliki pendapatan yang dihasilkan dari kerja keras sendiri.
“Kalau pemuda punya penghasilan tetap dari keringatnya sendiri, saya lebih optimis mereka akan sukses,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tentang sikap generasi muda di era digitalisasi yang kian masif. Ia mengingatkan agar para pemuda bijak dalam menyikapi informasi di media sosial.
“Tidak semua yang ditampilkan di medsos itu ada sumbernya. Kalau buku atau Al-Qur’an, jelas pengarang dan sumbernya, bisa dipertanggungjawabkan. Tapi di medsos belum tentu benar,” ucapnya.
Ia bahkan menyoroti fenomena belajar agama hanya lewat media sosial tanpa bimbingan guru atau ulama.
“Ada yang bilang, ngaji cukup lewat medsos, enggak perlu ke pesantren. Itu belum tentu benar. Saya sudah kaji dan lihat, ternyata tidak sesuai. Jadi kita harus bijak memilih sumber yang bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.
Ia menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya rebahan, tetapi harus bangkit menjadi generasi produktif yang siap bersaing dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Baca Juga:Bupati Harap Opsen PKB-BBNKB Dorong Optimalisasi PAD Kabupaten BandungBupati Bandung Tegaskan Insentif bagi 17 Ribu Guru Ngaji Tetap Dilanjutkan
“Saya tidak mau pemuda saat ini hanya rebahan saja. Tapi pemuda saat ini harus bangkit menjadi pemuda yang produktif,” pungkasnya.
