Terbang Bersama Keyakinan: Kisah Pandu Jaya, Sang "Pangeran Jablay"

Pandu Jaya
Sukma Pandu Permana, sosok yang kini dikenal luas di dunia merpati tanah air dengan julukan “Pangeran Jablay.”
0 Komentar

DI lantai tiga rumahnya, terdengar suara kepak merpati bersahut-sahutan. Puluhan burung berjajar di kandang-kandang mewah dari alumunium dan kawat halus. Di tengahnya berdiri seorang pria berjersey merah dengan topi kebanggaannya, menyapa satu per satu burung kesayangannya. Dialah Sukma Pandu Permana, sosok yang kini dikenal luas di dunia merpati tanah air dengan julukan “Pangeran Jablay.”

“Kalau nggak denger suara merpati, rasanya ada yang kurang,” ucapnya sembari mengelus lembut kepala seekor merpati.

Kecintaannya pada merpati bermula di tempat ia tumbuh. Di sekeliling rumahnya dulu, nama-nama besar dunia merpati nasional bertebaran. Seperti: Nisteri, Kintakun, Arsenal.

Baca Juga:PT Agrinas Palma Nusantara Digugat Warga, IAW Sebut Legalitas Masih RapuhSamsung Umumkan Pemenang SFT 2025, Dua Tim Siap Berlaga ke Tingkat Global

“Saya dari SD udah sering bantuin pemain-pemain itu, penasaran gimana cara ngerawat burung,” kenangnya sambil tertawa kecil.

Rasa ingin tahu berubah jadi panggilan hati. Dari satu pasang burung pemberian, Pandu kecil mulai beternak di atap rumahnya. Burung-burung hasil ternak dijual untuk tambahan uang saku.

“Dulu mah, teman-teman masih naik sepeda, saya udah bisa beli sepatu Converse, bahkan Ninja R. Semua dari burung,” ujarnya bangga.

Namun, hidup tak selamanya berjalan di lintasan yang sama. Setelah SMA, Pandu sempat berhenti main merpati. Ia bekerja sebagai sales di beberapa merek besar, hingga akhirnya diterima masuk TNI pada 2012 lewat jalur prestasi basket. Tugas membawanya hingga ke Bali dan Sudan dalam misi perdamaian. Tapi jauh dari rumah, ia selalu merasa ada yang hilang.

“Kalau nggak ada peliharaan, saya nggak betah,” ucapnya lirih.

Kembali dengan Sayap Baru

Setelah pulang ke Indonesia pada 2015, Pandu kembali ke dunia yang dulu membesarkannya: dunia merpati. Kali ini, ia tak sekadar pemain, tapi juga pencari ilmu tentang trah dan karakter burung.

Pandu belajar dari para senior seperti Mang Uking Baraya, Mang Alit Panghegar, Mang Uus BL, hingga Mang Bejod, sang legenda pencetus karakter Jablay–jenis burung yang terkenal karena keindahan teknik loncatnya.

Baca Juga:DPR RI Desak KLH Tinjau Ulang Penutupan Usaha di PuncakBudget Sejutaan? Ini 5 Hal yang Perlu Kamu Cek Sebelum Beli Ponsel

“Dari Mang Bejod, saya belajar banyak. Dan dari beliau juga saya dapat nama ‘Pangeran Jablay,’” tutur Pandu.

0 Komentar