Seribu Rupiah, SMAN 2 Lembang Hidupkan Gotong Royong

SMAN 2 Lembang
Siswa SMAN 2 Lembang menyambut antisias Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) sebagai wujud keikhlasan berbagi.
0 Komentar

Airlangga menilai pengelolaan program ini berjalan sangat baik, dengan koordinasi yang rapi oleh OSIS dan bendahara kelas. Secara teknis, pengumpulan donasi tidak dilakukan secara kaku. “Kadang dikumpulkan saat istirahat atau pagi sebelum belajar. Petugas OSIS datang ke kelas dengan kotak donasi,” jelas Airlangga.

Ia sendiri kerap menyumbang lebih dari Rp1.000, bahkan hingga Rp2.000, termasuk untuk program infak umrah yang sudah berjalan lama di SMAN 2 Lembang. Dengan bekal harian Rp20.000, yang sebagian digunakan untuk transportasi seperti angkot atau ojek, Airlangga tetap konsisten berdonasi. “Kalau orang tua ada di rumah, kadang diantar. Tapi kalau tidak, saya naik transportasi umum,” ungkapnya. Ia menegaskan, menyisihkan Rp1.000 hingga Rp2.000 per hari tidak memberatkan, melainkan menjadi kebiasaan positif.

SMAN 2 Lembang Sukses Kolaborasikan Sapoe Sarebu dengan Infak Umrah

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Dulhamin Arif menjelaskan, bahwa sekolah langsung menggelar sosialisasi tiga hari pasca-edaran kepada guru, staf tata usaha, dan siswa untuk memastikan program donasi Rp1.000 per hari ini berjalan lancar. “Program ini selaras dengan nilai yang sudah kami jalankan sejak 2018 melalui infak umrah, di mana siswa menyisihkan Rp1.000 per hari untuk mendukung siswa dan guru penghafal Alquran berangkat umrah,” ujar Dulhamin.

Baca Juga:IPRC: Operasional Bandung Zoo Harus Dipisahkan dari Konflik Kepemilikan LahanNiat Mediasi Berujung Bui, Lima Orang Korban Pengeroyokan Justru Jadi Tersangka

Dia memaparkan, SMAN 2 Lembang mengkolaborasikan Sapoe Sarebu dengan infak umrah tanpa membebani siswa. “Jadi siswa berdonasi Sapoe Sarebu sekaligus berinfak umrah. Semua sukarela, tidak wajib, agar tidak jadi beban,” tegasnya.

Pengelolaan donasi Sapoe Sarebu dilakukan secara transparan dengan kotak koin (kenceleng) yang dikelilingkan setiap hari di kalangan guru dan ditempatkan di area umum untuk siswa. “Kami hindari paksaan. Kotak diletakkan di tempat strategis, siapa saja bisa menyumbang secara sukarela,” kata Dulhamin.

Dana Sapoe Sarebu dikelola sekolah melalui rekening khusus, tanpa disetorkan ke pemerintah provinsi, dan diperuntukkan bagi siswa kurang mampu, seperti untuk biaya transportasi, jajan, atau kebutuhan sekolah seperti sepatu.

Berdasarkan data PPDB, SMAN 2 Lembang memiliki 71 siswa dengan SKTM, 31 siswa PAPS, dan satu siswa dengan SKTM ekstrem, yang menjadi prioritas penerima bantuan. “Minggu depan, wali kelas akan melaporkan kondisi riil siswa untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” ungkap Dulhamin.

0 Komentar