JABAR EKSPRES – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengizinkan Warga Negara Asing (WNA) menjadi pemimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah menjadi perbincangan publik.
Hal itu disampaiakn Prabowo saat berdiskusi bersama Chairman and Editor in Chief Forbes, Malcolm Stevenson Jr alias Steve Forbes di Hotel St Regis, Jakarta, Rabu (15/10) malam WIB.
“Dan saya sudah mengubah regulasinya. Sekarang ekspatrait, non-Indonesia (WNA), bisa memimpin BUMN kita,” ujarnya, dikutip Jumat (17/10/2025).
Baca Juga:Setahun Kepemimpinan Prabowo: Lapangan Kerja Diklaim Meningkat, Padahal Angka Pengangguran Masih TinggiKredit Perumahan Diklaim Percepat Penyediaan Rumah, Benarkah?
Pernyataan orang nomor satu di Indonesia itu kemudian menuai pro kontra, terlebih Prabowo kerap mengatakan adanya “antek-antek asing” yang tidak suka Indonesia maju dalam beberapa kondisi sebelumnya.
“Slogan antek asing itu retorika kosong. Aslinya bapak ini (Prabowo) lebih liberal dibandingkan pendahulunya,” ujar seorang warganet di X, menanggapi regulasi terbaru itu,
“Teriak-teriak antek-antek asing sendirinya nyemba ke asing, gokil hypocrite nya, munafiknya gokil,” ujar warganet lainnya.
Di sisi lain, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti justru mendukung langkah Prabowo, yang memperbolehkan WNA memimpin BUMN.
“Untuk perbaikan dan menjadikan BUMN lebih baik, tidak ada salahnya,” ujar Susi melalui akun X nya @/susipudjiastuti.
Selain itu, CEO Danantara Rosan Roeslani memastikan dalam perekrutan WNA untuk menjadi petinggi BUMN akan melalui analisis yang cermat.
“Kita benar-benar analisis, bahwa ekspat yang kita bawa di BUMN-BUMN itu memang bisa memberikan transfer of technology, knowledge dan lebih membawa BUMN kita dengan standar internasional, dengan pengalaman yang lebih panjang,” paparnya.
Baca Juga:Harga Ayam Potong Semakin Tak Terkendali, Peternak Kukuh Bukan Karena MBG!Gubernur Banten Nonaktifkan Kepala SMAN 1 Cimarga, Publik: Menampar Siswa Merokok di Sekolah Bukan Kekerasan!
Ia menjelaskan langkah ini dilakukan juga sebagai upaya untuk mengurangi hal-hal yang berpotensi memberikan sentimen negatif di tubuh BUMN.
“Kita juga mencoba mereduksi secara total hal-hal mungkin yang kita temukan dalam BUMN, yang sifatnya adalah korupsi atau lain-lain. Itu yang coba akan kita berantas secara total,” ujar Rosan.
Diketahui, dua WNA telah diangkat sebagai direksi di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Menurutunya, ini menjadi bukti bahwa pihaknya serius dalam melakukan transformasi di BUMN tersebut.
“Karena di dalam Garuda ini kita juga menginvestasikan dana yang tidak kecil, kita sudah kucurkan 400 juta dolar AS dan kemungkinan akan bertambah. Jadi, kita melihat bahwa manajemen memiliki peran yang penting,” kata dia.
