Kasus TBC Masih Tinggi, Dinkes Bandung Tak Mau Kendorkan Pengawasan

Kasus TBC Masih Tinggi, Dinkes Bandung Tak Mau Kendorkan Pengawasan
Antrian pasien untuk mengecek penyakit Tuberkolosis (TBC) di Puskesmas Garuda, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung terus memperkuat upaya pengendalian penyakit menular, terutama Tuberkulosis (TBC), yang masih menjadi masalah kesehatan serius di kota ini. Bersamaan dengan itu, Dinkes juga melakukan langkah efisiensi kelembagaan melalui pembangunan aula baru sebagai pusat kegiatan internal.

Kepala Dinkes Kota Bandung, Sony Adam, mengatakan meskipun kasus TBC bukan yang tertinggi di antara penyakit menular lainnya, jumlahnya masih terbilang tinggi dan membutuhkan perhatian khusus.

“Kasus TBC di Bandung masih cukup tinggi. Walaupun bukan penyakit dengan angka tertinggi, tapi jumlahnya masih mengkhawatirkan,” ujarnya, Kamis (16/10/2025).

Baca Juga:Dinkes Bandung Bongkar Fakta, Dapur Makanan Bergizi Ternyata Belum Semua HigienisDinkes Bandung Barat Pastikan Siswi SMKN 1 Cihampelas Meninggal Bukan karena MBG

Sony menjelaskan, penyakit yang paling banyak dilaporkan fasilitas kesehatan saat ini adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Namun, TBC tetap menjadi prioritas karena memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat.

“ISPA memang paling banyak, tapi penanganan TBC tidak boleh kendor. Kami terus memperkuat deteksi dini, memastikan pengobatan tuntas, dan meningkatkan edukasi masyarakat,” tambahnya.

Untuk mempercepat penanggulangan, Dinkes Bandung menggencarkan kolaborasi lintas sektor, melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta komunitas kesehatan agar seluruh pasien TBC dapat menyelesaikan pengobatannya hingga sembuh total.

“Kunci pengendalian TBC adalah kedisiplinan, baik dari tenaga kesehatan maupun pasien. Kami ingin memastikan tidak ada pasien yang putus obat,” tegasnya.

Selain fokus pada pengendalian penyakit, Dinkes juga tengah membangun aula serbaguna di lingkungan kantornya. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat kegiatan internal seperti rapat, pembinaan, dan pelatihan tenaga kesehatan.

“Selama ini kegiatan banyak dilakukan di luar kantor, seperti di hotel. Dengan adanya aula sendiri, kami bisa menghemat biaya dan waktu pelaksanaan kegiatan. Insyaallah ini jadi langkah nyata efisiensi,” kata Sony.

Pembangunan aula tersebut kini berada dalam tahap penyelesaian dan ditargetkan selesai pada tahun 2026. Dinkes berharap keberadaan fasilitas ini dapat memperkuat koordinasi lintas bidang serta meningkatkan efektivitas pelayanan publik di sektor kesehatan Kota Bandung. (Dam)

0 Komentar