“Kalau kuotanya masih banyak tentu kita buang lancar. Tapi kalau sudah hampir habis, kita harus berhitung betul. Jangan sampai truk sudah sampai Sarimukti tapi harus balik karena kuotanya tidak mencukupi,” ujarnya.
Situasi ini menuntut Pemkot Cimahi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
Arman menegaskan, solusi tidak bisa bergantung pada satu sektor saja. Ia menyebut, ada lima unsur penting yang harus diintegrasikan secara sinergis, kelembagaan, regulasi, pembiayaan, tenaga operasional, serta partisipasi masyarakat.
Baca Juga:Dokumen Palsu Terbongkar, Malaysia Didenda FIFA Rp6,4 MiliarMarteen Paes Siap Ukir Sejarah Bersama Timnas Indonesia
“Kelembagaan di Kota Cimahi alhamdulillah sudah dipisah, ada UPTD Pelayanan Persampahan sebagai operatornya, dan Bidang PSLB3 sebagai regulatornya. Pemisahan ini penting untuk efektivitas pengelolaan,” kata Arman.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah. Menurutnya, paradigma lama “kumpul, buang, angkut” sudah tidak relevan.
Kini, masyarakat perlu mulai menerapkan pola “kumpul, olah, buang residu,” agar volume sampah yang dikirim ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
Perubahan ini, lanjut Arman, tidak hanya menuntut kesadaran ekologis warga, tetapi juga dukungan kebijakan dan insentif dari pemerintah daerah.
Apalagi Pemkot Cimahi kini sedang memperkuat program edukasi dan pemberdayaan masyarakat agar pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar urusan pemerintah semata.
“Kalau masyarakat bisa memilah dan mengolah dari rumah, beban kami di lapangan akan jauh berkurang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan armada pengangkut. Butuh perubahan sistemik dan kolaborasi semua pihak,” tegasnya. (Mong)
