JABAR EKSPRES – Upaya Pemerintah Kota Cimahi dalam mencetak generasi muda yang sehat dan unggul kini diwujudkan melalui Gerakan Sekolah Sehat (GSS).
Program lintas sektor ini tidak hanya berada di bawah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), melainkan juga menggandeng berbagai instansi terkait di bidang pendidikan dan kesehatan.
GSS mencakup enam aksi nyata, antara lain Sekolah Sehat, Gemar Makan Ikan, Makan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman), Sekolah Literasi, Kantin Sehat, serta Sekolah Aman.
Baca Juga:PSG Tundukkan Barcelona Lagi! Luis Enrique Puji Semangat Juang Anak AsuhnyaLiverpool Krisis Jelang Duel Kontra Chelsea, Alisson dan Ekitike Dipastikan Absen
Implementasi dari gerakan ini mulai tampak dalam kegiatan Sekolah Berkebun yang digelar di SDN Cibeureum Mandiri 1, Kamis (2/10/25). Suasana penuh antusiasme terlihat dari para siswa yang bersemangat mengikuti proses belajar bercocok tanam.
Kabid Pertanian dan Perikanan Dispangtan Kota Cimahi, Teja Dahliawati, menjelaskan bahwa konsep gizi seimbang kini telah berkembang dari “empat sehat lima sempurna” menjadi pola makan B2SA.
“Untuk tahap awal, intervensi difokuskan pada jenjang SD dan SMP. Ke depan, program ini juga akan menyasar SMA dan SMK,” ungkap Teja.
Salah satu terobosan penting dalam program ini adalah pemanfaatan lahan kosong sekolah untuk berkebun.
Menurut Teja, sekolah yang tidak memiliki lahan tetap bisa menjalankan kegiatan dengan berbagai metode alternatif.
“Bisa dengan hidroponik, polybag, bahkan rooftop yang belum dimanfaatkan. Program ini selaras dengan visi-misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cimahi dalam mencetak generasi muda yang sehat dan unggul,” tambahnya.
Teja menekankan bahwa tujuan utama bukan sekadar mengajarkan bercocok tanam, tetapi juga membangun kesadaran kolektif di lingkungan rumah.
Baca Juga:Drama Detik Terakhir: Launching Nama Baru Stasiun Cirebon Mendadak Dibatalkan, BT Batik Trusmi Kecewa BeratMbappe Akui Tak Puas Meski Cetak Hat-Trick saat Madrid Pesta Gol ke Gawang Kairat Almaty
“Anak-anak tidak hanya belajar di sekolah, tapi juga bisa menularkan semangat itu kepada orang tua dan lingkungannya. Jangka panjangnya, pekarangan sempit di perkotaan seperti Cimahi tetap bisa memberi manfaat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya keberlanjutan. Dengan potensi keterbatasan anggaran, pemerintah berharap sekolah dapat mengembangkan program ini secara mandiri.
“Beberapa sekolah yang sudah diintervensi sebelumnya diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya,” pungkas Teja. (Mong)
