Jabar Ekspres – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ribuan siswa di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), meninggalkan trauma mendalam bagi orang tua.
Alih-alih terbantu, banyak wali murid kini justru melarang anak-anak mereka menyantap makanan gratis yang dibagikan di sekolah.
Tati (48), seorang ibu rumah tangga asal Padalarang, mengaku lebih memilih membekali anak-anaknya dengan makanan dari rumah. Ia khawatir kasus serupa bisa menimpa putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD dan SMP.
Baca Juga:Bantu Penerangan Masyarakat Pra-sejahtera, UPI Hadirkan Program Listrik Mandiri Rakyat di Desa Sukaresmi KBBTiang Internet Tanpa Izin Berjejer Jalan Purnomosidi, Pemkot Banjar Akan Tindak
“Daripada berisiko, lebih baik anak saya bawa bekal dari rumah. Lebih aman. Apalagi beritanya ramai sekali, di TV dan media sosial capai ribuan orang keracunan. Saya jadi takut,” ungkap Tati, Minggu (28/9/2025).
Kekhawatiran serupa diungkapkan Yuni (50), wali murid di salah satu SD swasta di Ngamprah. Menurutnya, kasus keracunan membuat banyak siswa enggan menyentuh menu MBG yang dibagikan di sekolah.
“Jadi banyak yang enggak mau makan. Apalagi baru-baru ini ada video dari SMP di Ngamprah yang menampilkan ulat di makanan. Mereka (murid) makin takut,” kata Yuni.
Selain faktor keamanan, Yuni juga mengeluhkan menu makanan yang kurang sesuai dengan selera anak-anak. Akibatnya, banyak makanan yang tidak dihabiskan bahkan terbuang percuma.
“Anak-anak kadang tidak suka menunya. Akhirnya ditinggal atau dibawa pulang, tapi tetap tidak dimakan. Mubazir sekali,” ujarnya.
Kekhawatiran orang tua semakin besar setelah beredar kabar mengenai kualitas bahan pangan yang dipakai dapur MBG. Salah satunya, bahan makanan disebut dipesan jauh hari sebelum diolah.
Vian (35), warga Ngamprah, menilai hal ini berisiko membahayakan kesehatan anak-anak jika benar terjadi.
Baca Juga:Wagub Jateng Targetkan 50 Persen Penyandang Difabel Bisa Menikmati Program Kecamatan Berdaya pada 2026Kualitas Air Cimahi Memburuk, DLH Tegaskan Limbah Domestik Jadi Penyumbang Utama Pencemaran
“Kabar yang saya dengar, misalnya ayam dibeli Sabtu tapi baru dimasak Selasa. Itu kan bahaya, nyawa anak-anak yang jadi taruhannya,” cetus Vian.
Para orang tua mendesak pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, mulai dari kualitas bahan, kebersihan dapur, hingga proses distribusi. Mereka khawatir tanpa pembenahan serius, program ini justru membahayakan nyawa siswa.
