JABAR EKSPRES – Simulasi evakuasi mandiri bencana gempa bumi di Rusunawa Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, pada Sabtu (27/9/2025) diwarnai antusiasme warga.
Namun, di balik kesigapan itu, muncul keluhan serius, penghuni rusun menilai belum adanya sistem peringatan dini gempa yang memadai.
Rusunawa Cigugur Tengah sendiri memiliki 48 kamar per gedung, dengan total empat gedung yang menampung 192 kamar. Kondisi ini membuat penghuni merasa was-was jika gempa kembali terjadi.
Baca Juga:Tekan Angka Pengangguran, Disnaker Cimahi Bekali Warga dengan Pelatihan Service HPHarga Hortikultura Naik Turun, Dispangtan Cimahi Sebut Dipengaruhi Cuaca
Sofi (43), warga lantai empat Rusunawa, mengaku sering merasakan guncangan gempa meski dalam skala kecil. Menurutnya, evakuasi saat ini masih mengandalkan pengumuman manual melalui mushola dan pengeras suara warga.
“Kerasa banget kalau gempa, goyangnya bikin bingung mau lari atau gimana. Selama ini anjurannya kalau di lantai atas jangan turun, lebih baik tetap di atas, keluar ke lobi atau area terbuka di lantai yang sama. Kalau di bawah bisa langsung ke lapang,” ujar Sofi kepada Jabar Ekspres.
Ia menambahkan, sosialisasi evakuasi pernah dilakukan sebelumnya, namun tetap dirasa kurang aman karena tidak ada sistem alarm otomatis.
“Kalau gempa, alarm belum ada, cuma speaker. Harapan saya ada alarm otomatis, seperti di laut kalau ada tsunami kan bisa bunyi sendiri,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, kepada Jabar Ekspres Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menegaskan kebutuhan sistem peringatan dini (early warning system) memang sangat mendesak. Namun, Cimahi baru akan memulai pemasangan sistem tersebut pada 2026.
“Namanya early warning system. Tahun depan kita mulai dari sistem peringatan dini banjir, kemudian bertahap sesuai kebutuhan. Untuk gempa, teknologinya memang terbatas, karena sensor mendeteksi dini gempa itu belum ada di Cimahi. Yang bisa terdeteksi adalah getarannya,” jelas Fithriandy yang akrab disapa Andy.
Ia menuturkan, sistem yang akan dikembangkan nantinya tidak hanya soal banjir, tetapi juga untuk memantau kualitas udara, kondisi sampah di aliran sungai, hingga potensi cuaca ekstrem. Semua akan dikombinasikan dengan data BMKG dan lembaga nasional lainnya.
Baca Juga:Industri Baja Nasional Makin Tangguh, Ekspor CRC Indonesia Tembus Pasar EropaPendanaan APBN untuk IKN Masih Berlanjut di 2026, Menkeu Harap Swasta Segera Terlibat
“Untuk perumahan dan lingkungan masyarakat seperti Rusunawa, sementara kita pasang rambu-rambu jalur evakuasi dan titik kumpul. Ke depan sistem ini diharapkan terkoneksi dengan ponsel dan televisi digital warga, sehingga peringatan bisa diterima secara cepat,” tambah Andy.
