Meski dianggap wajar mengingat jumlah porsi yang masif, Latifah tetap meminta agar pencucian dan seleksi bahan baku diperketat.
“Keluhan yang paling sering dari siswa itu soal sayur yang kadang terasa asam. Katanya karena dimasak sejak pukul tiga dini hari. Menu berbasis ikan juga sering kami sarankan untuk dihindari, karena banyak siswa tidak suka, ada risiko alergi, dan potensi keracunan lebih tinggi. Contohnya ikan dori yang amis saat dingin, atau ikan patin krispi yang ternyata tidak diminati,” ujarnya.
Pihak sekolah, lanjut Latifah, selalu berkoordinasi dengan ahli gizi untuk menyesuaikan menu. Grup komunikasi dibuat agar setiap pekan pihak sekolah mengetahui daftar hidangan yang akan disajikan.
Baca Juga:Korban Keracunan MBG Capai 301 Orang, Bupati Bandung Barat Jamin Pengobatan Ditanggung PemkabJumlah Korban Keracunan Ayam MBG di Cipongkor Terus Bertambah, Capai 63 Siswa
Selain itu, mekanisme evaluasi juga diterapkan. Jika siswa menemukan perbedaan rasa atau warna pada makanan, mereka diminta tidak mengonsumsi dan menyimpan kembali ke foodtray. Makanan tersebut kemudian dijadikan bahan evaluasi bagi pihak SPPG.
“Ini penting untuk mencegah risiko. Poster peringatan juga sudah kami pasang di sekolah, agar anak-anak lebih waspada. Bahkan sampah kulit buah dan sisa makanan pun dikembalikan ke SPPG untuk dimanfaatkan kembali, misalnya jadi pakan maggot,” jelasnya.
Dari sisi distribusi, SMKN 3 Cimahi menyesuaikan jadwal pembagian makanan dengan kurikulum agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). Setiap hari, sekitar 15 guru ditugaskan secara bergiliran untuk membantu proses pembagian.
“Pembagian dilakukan pukul 09.45 sampai 10.20 saat istirahat, dan foodtray dikembalikan pada pukul 12.00. Jadi tidak ada kegiatan yang terganggu secara signifikan. Memang pasti ada kendala, tapi kami selalu berupaya meminimalisir,” ucap Latifah.
Ia menambahkan, kendati program MBG membawa manfaat besar untuk mendukung gizi siswa, risiko keamanan pangan tidak boleh disepelekan.
Lebih lanjut, Latifah menegaskan, antisipasi, koordinasi, dan pengawasan yang konsisten menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan dampak positif tanpa menimbulkan masalah baru.
“Intinya kami berusaha menjaga kualitas dan keamanan makanan dengan pengawasan ketat, supaya jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan. Mudah-mudahan dengan langkah ini, kasus keracunan bisa benar-benar dihindari,” pungkasnya. (Mong)
