Menarik Garis di Braga, Mereka yang Serukan Keadilan Iklim

Menarik Garis di Braga, Mereka yang Serukan Keadilan Iklim
Aktivis dari berbagai komunitas lingkungan menampilkan teatrikal saat aksi Draw The Line di kawasan Braga, Kota Bandung, baru-baru ini. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Dalam pernyataan resmi, koalisi aksi menegaskan empat garis tuntutan kolektif. Seperti hentikan bahan bakar fosil dan alihkan dana untuk transisi adil, rebut kembali ruang hidup dan narasi kota, lindungi demokrasi dan suara rakyat, serta wujudkan solidaritas global untuk Palestina.

Rute aksi tak hanya melalui Braga depan yang dipenuhi kafe dan butik. Peserta juga melewati gang-gang di belakang jalan utama. Farrel mengatakan, hal itu disengaja untuk menunjukkan dua wajah berbeda Braga.

“Di depan terlihat estetik dan indah. Tapi di belakang, warga hidup berdesakan di rumah-rumah yang sudah masuk indikator kekumuhan,” ujarnya.

Baca Juga:Diklaim Memiliki Dampak Serius, Humas Bandung Zoo Beberkan Soal Penutupan Sementara ASN Kabupaten Bandung Jalani Pelatihan, Persiapan Realisasi 57 Rencana Aksi Daerah?

Kontras itu, menurut dia, menggambarkan ketimpangan yang nyata di tengah kota. Selain simbol dan teatrikal, aksi juga menyoroti isu lokal Bandung. Farrel mengkritik rencana pembangunan insinerator untuk mengatasi sampah.

Menurutnya, teknologi itu hanya menyelesaikan masalah sementara dan meninggalkan persoalan baru berupa abu beracun. “Insinerator bukan solusi konkret. Yang lebih penting adalah kebijakan pemerintah yang ketat terhadap industri plastik,” katanya.

Dia menambahkan, penegakan hukum perlu lebih tegas terhadap limbah, terutama styrofoam yang mencemari sungai-sungai di Bandung.

Bagi Kawa, 22 tahun, peserta aksi lainnya, Draw the Line berarti membuat batas. Dia melihat krisis iklim sebagai hasil dari sistem kapitalisme dan oligarki.

“Cukup sampai sini,” ujarnya.

Kawa juga menilai aksi bersih-bersih lingkungan seperti World Clean Up Day belum menyentuh akar masalah. Menurutnya, kegiatan itu bisa menjadi simbol perlawanan senyap, tapi tanpa kebijakan tegas, sampah tetap menumpuk dari tahun ke tahun.

Baik Farrel maupun Kawa sepakat aksi ini hanyalah permulaan. Mereka berharap suara kolektif terus terjaga. Farrel menutup dengan refleksi, “Bumi ini bukan diwariskan, tapi dititipkan. Kalau dititipkan, kita harus menjaganya,” pungkasnya.

0 Komentar