JABAR EKSPRES – Siklus air global semakin menunjukkan ketidakstabilan dengan bergeser dari kekeringan ekstrem menuju banjir besar yang merusak. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang dirilis pada Kamis.
Laporan bertajuk State of Global Water Resources 2024 tersebut menegaskan bahwa tekanan terhadap sumber daya air tawar terus meningkat, dengan dampak domino perubahan iklim yang semakin dirasakan oleh masyarakat serta perekonomian.
Hasil temuan WMO menunjukkan hanya sekitar sepertiga daerah aliran sungai di dunia yang mengalami kondisi “normal” pada 2024. Angka ini mencatat ketidakseimbangan selama enam tahun berturut-turut.
Baca Juga:8 Penyebab Hidung Tersumbat dan Faktor yang MempengaruhinyaTimnas Basket Putri U-16 Indonesia Gagal ke Final, Bidik Perunggu di FIBA Asia Cup 2025 Divisi B
Beberapa wilayah seperti Lembah Amazon dan Afrika bagian selatan dilanda kekeringan parah, sementara Afrika tengah dan timur, Eropa Tengah, hingga sebagian Asia justru mengalami curah hujan di atas rata-rata.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menekankan bahwa air merupakan penopang kehidupan masyarakat, pendorong ekonomi, sekaligus elemen penting bagi ekosistem. Namun, tambahnya, sumber daya air dunia kini berada di bawah tekanan besar, sementara bencana terkait air semakin sering menghantam kehidupan dan mata pencaharian manusia.
“Namun, sumber daya air dunia berada di bawah tekanan yang semakin besar, dan–pada saat yang sama–bencana terkait air yang lebih ekstrem semakin berdampak pada kehidupan dan mata pencaharian,” ujarnya.
Data laporan juga mencatat gletser global kehilangan sekitar 450 gigaton es sepanjang 2024. Penyusutan ini sudah berlangsung selama tiga tahun beruntun, setara dengan volume 180 juta kolam renang Olimpiade. Pelelehan tersebut berkontribusi menambah 1,2 milimeter permukaan laut global, yang mengancam ratusan juta penduduk pesisir.
Fenomena cuaca ekstrem memperparah kondisi tersebut. Afrika tropis mengalami hujan deras yang menewaskan sekitar 2.500 orang dan memaksa empat juta orang mengungsi.
Eropa menghadapi banjir terbesar sejak 2013, sementara Brasil mengalami kombinasi banjir hebat di selatan serta kekeringan panjang di wilayah Amazon yang mencakup hampir 60 persen kawasannya.
“Informasi yang andal dan berbasis sains menjadi lebih penting daripada sebelumnya karena kita tidak dapat mengelola apa yang tidak kita ukur,” ujar Saulo.
Baca Juga:Fajar/Rian Bidik Revans Lawan Ganda Malaysia di Perempat Final China Masters 2025Jair Bolsonaro Didagnosis Kanker Kulit Stadium Awal, Jalani Perawatan Medis
“Investasi berkelanjutan dan peningkatan kolaborasi dalam berbagi data sangat penting untuk menutup kesenjangan pemantauan. Tanpa data, dapat menimbulkan potensi berbahaya,” jelasnya.*
