Satwa Bandung Zoo Hadapi Risiko Stres Psikologis Akibat Penutupan

Satwa Bandung Zoo Hadapi Risiko Stres Psikologis Akibat Penutupan
Seekor beruang madu di area Kebun Binatang Bandung, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penutupan sementara Kebun Binatang Bandung akibat konflik hukum dikhawatirkan berdampak pada kondisi psikologis satwa.

Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyebut hewan yang terbiasa berinteraksi dengan manusia berisiko mengalami kebosanan hingga stres jika penutupan berlangsung lama.

“Ketika pengunjung tidak hadir untuk jangka waktu lama, satwa yang terbiasa dengan kehadiran manusia seperti primata, khususnya yang berkelompok, dan hewan yang rutin diberi pengayaan interaktif,” tulis Annisa berdasarkan wawancara tertulis, dilihat Jumat (19/9).

Baca Juga:Kebun Binatang Bandung Rugi Rp2,7 Miliar Selama PenutupanDitutup Sementara! Putusan Inkrah Jadi Penentu Nasib Kebun Binatang Bandung

“Bisa menghadapi dampak psikologis signifikan: kebosanan yang mendalam, penurunan aktivitas, hingga munculnya apatis dan stereotip, yaitu perilaku berulang yang kehilangan fungsi adaptif,” sambungnya.

Dia menambahkan, untuk satwa yang bersifat soliter atau tidak tergantung pada interaksi manusia, dampaknya lebih ringan bahkan bisa netral, selama kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

“Yang terpenting adalah apakah pengelola mampu menjaga rutinitas pemeliharaan, pemberian pakan, perawatan kesehatan, dan stimulasi mental atau fisik tanpa gangguan. Tanpa itu, stres psikologis cepat muncul,” ujarnya.

Menurut Annisa, stimulus berupa enrichment perlu diberikan untuk menghindari kebosanan dan stres. Enrichment tersebut dapat berupa makanan yang diletakkan di dalam wadah tersembunyi, tali untuk bergelantungan, atau kolam untuk berkubang.

Geopix juga menyoroti kehilangan “stimulus sosial” dari kehadiran manusia. Namun, Annisa menyebut faktor lain lebih dominan memengaruhi perilaku satwa, seperti desain kandang, luasan, kepadatan satwa, ruang untuk sembunyi, kualitas enrichment, kestabilan lingkungan, dan rutinitas harian.

“Kehilangan stimulus sosial saja tidak cukup membuat satwa stres parah jika semua faktor lain terjaga dengan baik,” katanya.

Perbedaan dampak juga terlihat pada jenis satwa tertentu. Primata lebih peka terhadap perubahan sosial dan stimulus visual, sementara burung, khususnya yang aktif terbang atau memiliki kebutuhan kompleks dalam mencari makan, mudah terpengaruh oleh perubahan ruang dan noise.

Baca Juga:Kebun Binatang Bandung Masih Ditutup, Lho Apa ya Alasannya?

Karnivora besar, menurut Annisa, mungkin lebih toleran terhadap ketidakhadiran pengunjung jika kebutuhan fisik dan lingkungan mereka terpenuhi, tetapi tetap berisiko bila aktivitas rutin terganggu.

Jika penutupan berlangsung lama, Geopix menilai risiko jangka panjang dapat memengaruhi pola makan, kesehatan, reproduksi, hingga keseimbangan perilaku satwa.

0 Komentar