JABAR EKSPRES – Menjelang perhelatan akbar Piala Dunia 2026, tekanan politik dan sosial mulai merambah ke dunia sepak bola. Koalisi dari berbagai organisasi advokasi dan kelompok penggemar kini menyerukan boikot terhadap tim nasional Israel, menyusul konflik yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Kelompok-kelompok ini mendesak asosiasi-asosiasi sepak bola Eropa untuk mengambil sikap tegas. Mereka meminta agar negara-negara tertentu memboikot tim nasional Israel dan mengecualikan pemain-pemainnya dari berbagai kompetisi internasional maupun domestik.
Isu ini menjadi semakin nyata setelah sebuah papan reklame besar dipasang di jantung Kota New York, yang akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Billboard tersebut secara terbuka menyuarakan kampanye boikot terhadap Israel dalam konteks sepak bola.
Baca Juga:Pulang ke Tanah Kelahiran, Mourinho Siap Pimpin Benfica Menuju Era BaruBILLY MARTASANDY: Menyiapkan Generasi Pengabdi Negeri di Era Digital
New York sendiri dijadwalkan menggelar delapan pertandingan selama turnamen, termasuk laga final. Ini menjadikan kota tersebut sebagai panggung utama dalam pesta olahraga terbesar sejagat.
Amerika Serikat, bersama Kanada dan Meksiko, secara resmi menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Ketiga negara ini tengah bersiap untuk menyambut ribuan atlet, ofisial, dan jutaan penggemar dari seluruh dunia.
Namun, di tengah atmosfer perayaan dan persiapan, kampanye boikot terhadap Israel menimbulkan ketegangan politik yang menyentuh ranah olahraga internasional. Isu ini tidak hanya menyangkut hak asasi manusia, tetapi juga etika dan integritas olahraga global.
Koalisi kampanye tersebut telah menargetkan sejumlah negara Eropa secara spesifik. Di antaranya adalah Belgia, Inggris, Prancis, Yunani, Irlandia, Italia, Norwegia, Skotlandia, dan Spanyol—negara-negara yang memiliki sejarah panjang dalam sepak bola dan suara penting di UEFA.
Mereka mendesak agar negara-negara ini tidak hanya menolak bertanding melawan tim nasional Israel, tetapi juga memblokir pemain Israel dari berpartisipasi dalam kompetisi domestik. Ini mencakup liga profesional, piala nasional, dan turnamen Eropa.
Menurut koalisi tersebut, tindakan ini merupakan bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai “perang pemusnahan” yang terus berlangsung di Gaza. Mereka menilai sepak bola harus berdiri bersama nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Meski begitu, belum ada tanggapan resmi dari FIFA maupun UEFA mengenai desakan ini. Organisasi sepak bola internasional tersebut cenderung menjaga jarak dari konflik politik yang kompleks, meskipun tekanan publik terus meningkat.
