Superadventure DFC4 2025: Aksi Ekspedisi Off-Road Menembus Hutan Liar Jawa Barat

Foto Utama : Salah satu peserta DFC4 kategori Ekspedisi saat memasuki garis finish di Kampung Turis
Foto Utama : Salah satu peserta DFC4 kategori Ekspedisi saat memasuki garis finish di Kampung Turis, Pangandaran, Sabtu (6/9/2025). (Sadam Husen Soleh Ramdhani/Jabarekspres)
0 Komentar

Founder DFC, Leo Firmanto, menjelaskan bahwa rute tahun ini melintasi hutan Urug dan Cikatomas kawasan yang dikelola oleh Perhutani dan menyimpan banyak jejak sejarah dari era kolonial Belanda. Kawasan tersebut dikenal dengan kontur alamnya yang menantang serta pohon-pohon besar yang telah tumbuh sejak tahun 1960-an.

“Medan DFC tidak bisa ditebak. Hujan sebulan penuh sebelum start membuat lintasan semakin ekstrem. Beberapa mobil rusak, ada yang spionnya pecah, bahkan ada yang sampai terguling. Tapi inilah esensi dari ekspedisi, bukan menaklukkan alam, melainkan menyiasatinya,” ujar Leo.

Rute dengan tanjakan curam, turunan licin, lumpur dalam, serta jalur sempit di antara rimbunnya pepohonan membuat ekspedisi ini menjadi tantangan berat yang hanya bisa diselesaikan oleh tim yang memiliki perencanaan matang dan kerja sama yang solid.

Baca Juga:Membaca Motif Tragis Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu Dari Perspektif PsikologisWagub Jateng Lepas Penerbangan Perdana Semarang-Kuala Lumpur, Masyarakat Sambut Antusias

Salah satu peserta ekspedisi, Binsar Beton Nanto, pemimpin tim DFC 001 asal Jakarta, menyatakan bahwa setiap kilometer dalam DFC adalah medan belajar yang penuh semangat.

“Di sini tidak ada istilah duka. Yang ada hanyalah tantangan yang kami cari. Jalur-jalur ekstrem justru menjadi pemacu semangat kami,” ungkap Binsar.

Ia menekankan bahwa kendaraan off-road yang digunakan harus benar-benar disiapkan dengan baik, dilengkapi dengan peralatan recovery, serta didukung oleh pengemudi yang berpengalaman.

Senada dengan Binsar, peserta asal Bogor, Yuda Firmansyah, juga menyoroti pentingnya mental yang stabil dan kerja sama tim dalam menyelesaikan ekspedisi. Menurutnya, mengontrol emosi di tengah tekanan dan medan yang sulit adalah kunci utama.

“Yang paling penting itu menjaga perasaan. Di hutan, siapa yang emosian pasti akan sulit bertahan. Kunci sukses itu bukan cuma soal mobil tangguh, tapi juga tentang manajemen emosi dan logistik yang rapi. Alhamdulillah, kami bisa sampai finish dengan selamat,” katanya.

Ajang DFC4 tahun ini tak hanya meninggalkan jejak ban di medan terjal, tetapi juga membangun jejak kenangan dan persaudaraan bagi para penggemar petualangan sejati. Dengan misi menjelajahi, merawat, dan menghormati alam, Superadventure DFC4 2025 sekali lagi membuktikan bahwa eksplorasi alam liar bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan pelestarian lingkungan. (Dam)

0 Komentar