Bulog Bandung Targetkan Serap 37 Ribu Ton Beras Saat Panen Raya

Foto ilustrasi beras di gudang cabang Perum Bulog Bandung. (Dimas / JE)
Foto ilustrasi beras di gudang cabang Perum Bulog Bandung. (Dimas / JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Memasuki masa panen di sejumlah wilayah, Perum Bulog Cabang Bandung mulai mengintensifkan penyerapan beras petani untuk menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP). Meski panen raya belum terjadi secara serentak, beberapa titik produksi di wilayah Bandung Raya sudah mulai memasok ke gudang Bulog.

“Kalau untuk panen memang sudah ada di titik-titik tertentu. Tapi belum serentak untuk wilayah Bandung Raya. Yang sudah mulai itu di wilayah Sumedang. Kita juga sedang mengupayakan penyerapan. Beberapa titik sudah mulai masuk kemarin,” ujar Wakil Pimpinan Cabang Perum Bulog Bandung, Ratih Rachmawati, Kamis (4/9).

Ratih menyebutkan bahwa penyerapan ini sangat penting untuk memperkuat stok CBP, yang nantinya akan digunakan untuk stabilisasi harga dan kebutuhan distribusi bantuan pangan.

Baca Juga:BAZNAS Jabar Luncurkan Program Pendayagunaan untuk Tingkatkan Kesejahteraan MasyarakatAcil Bimbo Tutup Usia, Bandung Berduka Kehilangan Putra Terbaiknya

“Diharapkan nanti stok beras CBP itu akan terus bertambah. Kemudian bisa juga mendukung persediaan dalam negeri, khususnya di wilayah Bandung Raya,” tambahnya.

Untuk wilayah Cabang Bandung, Bulog menargetkan penyerapan sebanyak 37 ribu ton setara beras selama tahun 2025. Jumlah ini merupakan bagian dari target nasional yang mencapai 3 juta ton, hal ini berkenaan dengan belum adanya penambahan Inpres terkait hal tersebut.

“Total secara nasional itu kan 3 juta ton. Untuk cabang Bandung sendiri targetnya di 37 ribu ton setara beras. Itu target penyerapan untuk satu tahun,” kata Ratih.

Bulog Bandung mendapatkan suplai dari beberapa wilayah sentra produksi utama di sekitar Bandung Raya, di antaranya Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

Di sisi distribusi, Ratih mengungkapkan bahwa permintaan terhadap beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih sangat tinggi dibandingkan jenis beras premium. Bahkan, lebih dari 80 persen permintaan masyarakat saat ini didominasi oleh beras SPHP.

“Kalau permintaan masih di beras SPHP, Bu. Mungkin lebih dari 80 persen permintaannya beras SPHP,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap beras SPHP sangat tinggi, apalagi sejak digelarnya berbagai kegiatan bazar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung.

Baca Juga:Tokoh Agama dan Masyarakat di Jateng Serukan Kedamaian untuk Negeri Konser “Peterpan: The Journey Continues” di Bandung Ditunda, Budi Aloka: Demi Keselamatan dan Kenyamanan Semua

“Alhamdulillah antusiasnya warga sangat tinggi sekali. Apalagi kita juga bekerja sama dengan DKPP Kota Bandung, yang secara rutin mengadakan bazar murah dan GPM. Alhamdulillah banyak beras kami yang terjual melalui saluran tersebut,” katanya.

0 Komentar