Gunung Batu, Laboratorium Alam di Jantung Patahan Lembang

Gunung Batu, Laboratorium Alam di Jantung Patahan Lembang
Bendera merah putih berukuran raksasa berhasil dikibarkan di lereng bukit Gunung Batu, yang menjadi salah satu ikon wisata dan geologi di kawasan patahan aktif. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di ketinggian Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, berdiri tegak sebuah batu raksasa yang menjadi ikon kawasan wisata edukasi, yakni Gunung Batu.

Dari puncaknya, wisatawan bisa melihat bentang alam Bandung Raya, tetapi sesungguhnya gunung ini menyimpan kisah lebih besar tentang sejarah letusan purba, patahan aktif, dan penelitian kebencanaan yang terus berlangsung hingga hari ini.

Gunung Batu berada tepat di atas garis Patahan atau Sesar Lembang, struktur geologi sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga Cilengkrang. Patahan ini dikenal aktif dan berpotensi menimbulkan gempa besar. Tak heran, Gunung Batu menjadi salah satu titik paling penting dalam kajian mitigasi bencana di Jawa Barat.

Baca Juga:Fakta Ilmiah Sesar Lembang, Ancaman Gempa Besar yang Mengintai Bandung RayaMitigasi Lebih Penting dari Teknologi, BRIN Ingatkan Risiko Gempa Sesar Lembang

Sejarah geologi mencatat, Gunung Batu terbentuk sekitar 510 ribu tahun lalu, pada kala Pleistosen, akibat intrusi magma yang membeku di bawah permukaan. Materialnya berupa batuan beku andesit porfir yang kini menjadi dinding kokoh sekaligus daya tarik utama bagi pengunjung.

Papan informasi di puncak gunung menyebutkan bahwa keberadaan batuan tersebut erat kaitannya dengan letusan Gunung Sunda purba, gunung api raksasa yang ribuan tahun lalu meletus dahsyat hingga melahirkan jajaran gunung di sekitar Bandung, termasuk Tangkuban Parahu.

Menurut Peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono, posisi Gunung Batu saat ini tidak terjadi begitu saja. Ada proses tektonik panjang yang membuatnya menjulang.

“Gunung Batu ini bagian dari Sesar Lembang. Dulu berada pada satu level yang sama, lalu terangkat akibat aktivitas tektonik,” ungkap Mudrik belum lama ini.

Hasil penelitian menunjukkan pergeseran vertikal di kawasan Gunung Batu mencapai 120 hingga 450 meter. Pergeseran ini terjadi sedikit demi sedikit, seiring aktivitas patahan. Bahkan dalam penelitian terbaru, ditemukan kenaikan setinggi 40 sentimeter yang diduga akibat gempa dengan magnitudo 6,5–7.

“Setiap kali bergeser, itu artinya ada kejadian gempa. Besarnya bisa puluhan sentimeter hingga beberapa meter. Dari galian yang kita temukan, pergeseran vertikal 40 cm bisa jadi akibat gempa dengan magnitudo 6,7 sampai 7,” jelasnya.

Kini, Gunung Batu tak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam. Di puncaknya, terlihat sejumlah sensor yang dipasang untuk mendeteksi getaran gempa dari Sesar Lembang. Badan Geologi bahkan mendirikan pos pemantau gempa di sana, yang hingga kini masih aktif beroperasi.

0 Komentar