JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menerbitkan Surat Edaran tentang peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi kegempaan, menyusul adanya aktivitas gempa beruntun di kawasan Sesar Lembang dan Kertasari.
Bupati Bandung Dadang Supriatna mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir sudah terjadi empat kali gempa di kawasan Sesar Lembang dengan magnitudo 2,7.
“Memang potensinya hampir, katanya, bisa mencapai delapan skala Richter. Tetapi mudah-mudahan kalau sudah bertahap 2,7 tidak terjadi yang magnitudo delapan,” ujarnya, Senin (25/8/2025).
Baca Juga:Masa Depan Rodrygo di Real Madrid Kian Suram, Xabi Alonso Tegaskan Tak Ada JaminanSangat Kompak! Hearts2Hearts Jadi Sorotan di Iklan Shopee 9.9 Super Shopping Day
Meski begitu, ia menegaskan Pemkab Bandung tetap melakukan langkah mitigasi dan edukasi kepada masyarakat.
“Jangan panik, karena nanti ada beberapa langkah yang harus dilakukan apabila terjadi gempa. Ada juga lokasi-lokasi yang lebih aman yang akan kami sampaikan melalui edukasi,” kata Dadang.
Surat Edaran yang ditandatangani pada 20 Agustus 2025 tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Cakra Amiyana.
Surat itu ditujukan kepada seluruh Kepala Badan, Kepala Dinas, dan Camat se-Kabupaten Bandung untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat.
Cakra menjelaskan, surat edaran ini diterbitkan untuk merespons informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai peningkatan aktivitas seismik di segmen barat Sesar Lembang sejak 24 Juli 2025.
“Pada 24 Juli terjadi gempa magnitudo 1,8, 28 Juli magnitudo 2,1, 14 Agustus magnitudo 1,9, dan 15 Agustus magnitudo 1,8,” jelasnya.
Selain itu, gempa beruntun juga tercatat di Sesar Kertasari, yakni pada 15 Agustus magnitudo 2,0, 17 Agustus magnitudo 1,3, dan 18 Agustus magnitudo 1,7.
Baca Juga:Perkuat Serbukatif di Sekolah, Inovasi yang Digagas Yantie RachimSaham MU Terancam Dijual Paksa?
“Kejadian ini menunjukkan pola aktivitas yang harus diantisipasi,” ujar Cakra.
Ia menekankan, sampai saat ini tidak ada teknologi yang bisa memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa akan terjadi.
“Sesar Lembang adalah potensi, bukan prediksi. Jadi siapapun tidak akan bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi,” tegasnya.
Untuk itu, Cakra meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan tanpa harus panik.
“Kami mengimbau para camat agar menyampaikan kepada warganya untuk selalu siap siaga, melakukan simulasi penyelamatan diri, serta meningkatkan pengetahuan mengenai risiko bencana,” katanya.
