JABAR EKSPRES – Di tengah ketegangan geopolitik dan ketimpangan global yang terus melebar, muncul harapan baru dari bidang yang jarang disorot dalam forum internasional: psikologi.
Lewat The Inaugural Meeting of The BRICS+ PSY Union yang digelar di Aston Kuta Hotel & Residence, Bali, 21–24 Agustus 2025, psikologi diangkat sebagai instrumen diplomasi baru yang menyatukan bangsa-bangsa dalam misi yang sama: kesejahteraan mental global.
Diselenggarakan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), forum ini merupakan tonggak sejarah kolaborasi internasional dalam dunia psikologi.
Baca Juga:Hodak Kritik Lini Depan Persib Usai Gagal Menang Lawan PSIMPemprov Jateng Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Sumur Minyak di Blora Senilai Rp180 Juta
Negara-negara anggota BRICS dan mitra Global South duduk bersama, bukan untuk membicarakan senjata atau ekonomi, melainkan kesehatan mental, pendidikan psikologi, digitalisasi layanan psikologis, dan kekuatan komunitas.
Tokoh-tokoh besar psikologi dunia hadir dalam pertemuan ini, membawa semangat lintas budaya dan solidaritas global:
Saths Cooper (Afrika Selatan), mantan Presiden IUPsyS, sekaligus aktivis kemanusiaan.
Ia menegaskan pentingnya peran psikologi dalam perjuangan sosial dan keadilan global, khususnya di Afrika. Han Buxin (Tiongkok), Presiden Asian Psychological Association dan peneliti di Chinese Academy of Sciences, membawa pendekatan berbasis sains untuk memahami tantangan psikologis di era penuaan populasi dan perubahan sosial.
Aleksandr Veraksa (Rusia), penerima Penghargaan Presiden Rusia untuk riset lintas budaya tentang perkembangan kognitif anak, berbicara soal pentingnya pendidikan psikologi sejak usia dini.
Maycoln Teodoro (Brasil) dan Prakash Padakannaya (India) menyoroti pentingnya memadukan psikologi lokal dan pendekatan global, agar solusi kesehatan mental tidak menjadi produk yang eksklusif milik negara maju.
Pertemuan ini bukan hanya ajang akademisi. Dari Indonesia, hadir Billy Martasandy, Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, yang mewakili suara praktisi dari sektor non-pemerintah.
“Psikologi bukan hanya teori. Di lapangan, kita melihat langsung bagaimana isu seperti burnout, stres kerja, hingga kesehatan mental remaja menjadi nyata. Forum ini mempertemukan pengalaman itu dengan kebijakan dan riset global,” ujar Billy.
Baca Juga:Lawan PSIM, Persib Masih Tak Diperkuat Adam Przybek!Jelang Penutupan Bursa Transfer, Real Betis Ingin Pertahankan Antony!
Billy juga menyambut baik rencana kerja sama antar negara BRICS+ dalam bentuk MoU untuk pertukaran pelatihan, riset bersama, hingga digitalisasi layanan psikologi, yang akan memperluas akses ke layanan kesehatan mental lintas batas negara.
