Edukasi, pemetaan, hingga penyusunan rencana kontinjensi menjadi langkah nyata agar risiko korban jiwa maupun kerugian dapat diminimalisir.
“Kami tidak bisa menghentikan gempa, tetapi kita bisa meminimalisir dampaknya dengan kesiapan bersama,” pungkas Ade.
Terpisah, Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, Meidi menyebut, bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana kontinjensi (renkon) sebagai langkah antisipasi jika terjadi gempa signifikan akibat pergerakan Sesar Lembang.
Baca Juga:BREAKING NEWS: Wamenaker Immanuel Ebenezer Kena OTT KPKSatu Orang Tewas Usai Bentrok Antarwarga di Jasinga Bogor, Pelaku Ditangkap!
Rencana tersebut mencakup skenario evakuasi warga terdampak dan koordinasi lintas daerah. Hal ini karena dampak aktivitas sesar tidak hanya dirasakan di Kabupaten Bandung Barat, tetapi juga meliputi Kota Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung, wilayah yang berada di kawasan Cekungan Bandung.
“Tentu ada penyesuaian untuk dokumen renkon karena gempa ini. Ketika bicara Sesar Lembang, dampaknya tidak hanya di KBB, tapi meliputi wilayah sekitar Cekungan Bandung,” ungkapnya.
Sekedar diketahui, Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang membentang sekitar 29 kilometer dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Sejumlah kajian geologi menyebut sesar ini memiliki potensi gempa dengan magnitudo hingga 6,5–7,0.
Letaknya yang berdekatan dengan kawasan padat penduduk, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya, menjadikan Sesar Lembang sebagai salah satu sumber ancaman gempa paling diperhatikan di Jawa Barat.
Ahli kegempaan berulang kali mengingatkan bahwa aktivitas kecil berupa gempa mikro seperti yang terjadi belakangan ini merupakan sinyal bahwa sesar masih hidup. Meski tidak selalu berujung pada gempa besar, pergerakan ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah. (Wit)
