Mari mulai dari sudut pandang produsen. Faktanya, banyak produsen yang memiliki mentalitas lemah, sehingga membuat produk secara seadanya, tanpa keberanian untuk berinovasi. Mereka hanya mengikuti tren dari luar negeri tanpa menciptakan terobosan baru.
Misalnya, banyak merek fesyen lokal yang konsep pemasaran, desain, dan komunikasi produknya sangat mirip dengan ide dari merek luar negeri. Pola ini juga terjadi pada industri makanan dan minuman, konten tren media sosial, dan sektor lainnya.
Sering kali, satu-satunya hal yang dibanggakan dari produk tersebut hanyalah label “karya anak bangsa” atau “produk lokal”. Tanpa disadari, pola pikir seperti ini membuat industri lokal terjebak di titik yang sama, tanpa perkembangan berarti.
Baca Juga:5 Rekomendasi Mobil untuk Mahasiswa dan Pengemudi PemulaCara Membersihkan NIK KTP di SLIK OJK agar Bisa Mengakses Pinjol Kembali
Itu baru produsen yang memahami bisnis. Ada pula produsen yang justru “tidak tahu diri” dengan kualitas produknya. Mereka beranggapan bahwa karena Indonesia adalah negara berkembang, maka wajar jika produk lokal memiliki kualitas rendah. Lebih parah lagi, mereka meminta pemakluman atas kekurangan produknya, seolah menormalisasi bahwa produk lokal identik dengan kualitas buruk atau standar pas-pasan.
Sikap ini mencerminkan nasionalisme buta, di mana masyarakat dipaksa mencintai produk lokal yang bahkan tidak memenuhi standar yang layak. Inilah mental produsen yang lemah, menganggap membuat produk di Indonesia cukup dengan “asal jadi” tanpa memikirkan nilai tambah atau daya saing.
Berpindah ke sudut pandang konsumen. Perilaku produsen seperti yang disebutkan tadi, kurang inovatif, memberikan kualitas seadanya, dan meminta dimaklumi, membentuk persepsi negatif di benak konsumen. Akibatnya, banyak konsumen meyakini bahwa produk lokal memang tidak sebagus produk luar negeri. Pandangan ini mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih memilih barang impor ketimbang produk dalam negeri.
Semua ini terjadi karena standar masyarakat Indonesia, baik produsen maupun konsumen, masih tergolong lemah. Produsen kerap pesimis terhadap produknya yang dianggap tidak semewah produk luar negeri, sementara konsumen pun pesimis terhadap kualitas produk lokal.
Masalah lain muncul ketika ada produk lokal yang kualitasnya sebenarnya sudah baik, bahkan mampu menyamai produk luar negeri, tetapi justru dipasarkan dengan harga yang hampir sama, atau bahkan lebih mahal, dibandingkan produk impor.
