JABAR EKSPRES — Persib Bandung berhasil mengalahkan Manila Digger dengan skor 2-1 dalam laga kualifikasi AFC Champions League Two 2025/2026, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Rabu (13/8/2025) malam.
Meski menang, performa Maung Bandung masih jauh dari kata meyakinkan. Kesalahan elementer yang berulang, minimnya koordinasi antarlini, serta chemistry yang belum terbentuk sempurna membuat kemenangan ini terasa belum istimewa.
Dan seperti banyak cerita pembuka, Persib tampil sebagai protagonis yang belum sepenuhnya siap.
Baca Juga:Babak Pertama Persib vs Manila Digger : Lucho Jadi PembedaPersib Full Team, Maung Bandung Siap Mengaum Lawan Manila Digger FC!
Meski menang 2-1, laga ini memperlihatkan bahwa Maung Bandung masih lebih mirip tim yang sedang membangun pondasi, ketimbang klub yang siap mengguncang Asia.
Skor akhir memang berpihak pada Persib. Tapi sebelum peluit panjang berbunyi, drama dan kecemasan silih berganti. Menit 65 menjadi momen yang merangkum malam Persib, Uilliam Barros berdiri bebas, gawang terbuka, Beckham mengirim umpan sempurna, dan bola justru meluncur ke sisi gawang. Bobotoh mengangkat tangan ke kepala, pelatih menghela napas panjang.
Hanya semenit berselang, skenario terburuk terjadi. Pertahanan yang lengah, transisi yang lambat, dan Manila Digger berhasil menyamakan kedudukan 1-1. Suara tribun sempat meredup.
Untungnya, insting predator Barros tak benar-benar mati malam itu. Pada menit ke-72, ia kembali menyambut servis Beckham, dan kali ini, tak meleset. Tendangan keras menggetarkan jala lawan, membawa Persib kembali unggul 2-1.
Tapi setelah itu, yang tersaji justru parade peluang gagal. Adam Alis nyaris menambah gol lewat sepakan kerasnya di menit 80, namun bola hanya menari di atas mistar. Lucho Guaycochea pun gagal mengkonversi umpan ciamik dari Rezaldi Hehanusa menjadi gol di menit 88. Dan di ujung laga, Barros nyaris mencetak brace lewat sundulan lemah yang mudah ditangkap.
Menang, tapi jauh dari memuaskan. Persib belum istimewa, dan memang belum layak disebut demikian.
Koordinasi antarlini tampak belum menyatu. Pola bermain acapkali putus di tengah jalan. Aliran bola dari lini belakang ke tengah, atau dari tengah ke depan, sering kali tak mengalir mulus. Gelandang bertahan kerap terisolasi, sementara pemain sayap bergerak tanpa sinkronisasi. Dalam beberapa fase, seperti menyaksikan 11 pemain dengan ide berbeda di kepala masing-masing.
