Krisis! Kota Bogor Kekurangan 636 Guru SD, Ini 4 Jurus Pamungkas Disdik!

Ratusan guru SD dan SMP di lingkungan Pemkot Bogor foto bersama Wali Kota Bogor, Bima Arya usai dilantik menjadi PPPK di Alun-Alun Kota Bogor.
Ratusan guru SD dan SMP di lingkungan Pemkot Bogor foto bersama Wali Kota Bogor, Bima Arya usai dilantik menjadi PPPK di Alun-Alun Kota Bogor. (Foto: Yudha Prananda/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor menyiapkan empat strategi untuk mengatasi kekurangan 636 guru sekolah dasar (SD) di wilayahnya.

Kepala Disdik Kota Bogor, Herry Karnadi, mengatakan langkah ini diambil menyusul kebijakan pemerintah pusat yang tidak lagi memperbolehkan perekrutan guru tenaga honorer sementara setiap tahunnya terdapat guru yang pensiun.

“Kita harus mencari solusi dan strategi. Kota Bogor akan menerapkan empat langkah untuk mengatasi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar ini,” ujar Herry saat dihubungi, Rabu (13/8/2025).

Baca Juga:Warga Lebaksari Ngamprah Protes, Janji Penanganan Banjir Cuma RetorikaPeringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah, Ini Acara yang Bisa Kamu Ikuti 

Langkah pertama yaitu adalah menggabungkan sekolah-sekolah dengan jumlah siswa sedikit menjadi sekolah induk. Rencananya, merger dilakukan pada 23 sekolah dasar menjadi 11.

Strategi kedua, memadatkan rombongan belajar (rombel) dengan menggabungkan kelas yang siswanya sedikit agar mendekati kapasitas maksimal sesuai Permendikbud, yakni 40 siswa per kelas.

“Jadi, kita merger dulu, kemudian pemadatan rombel. Kalau misal kelas 1 dan 2 awalnya dua kelas, bisa disatukan selama jumlahnya tidak melebihi daya tampung maksimal. Misalnya, ada dua kelas berisi 17 dan 15 siswa, itu bisa disatukan. Tapi tentu dilihat dulu kondisinya di lapangan,” jelasnya.

Langkah ketiga adalah bekerja sama dengan perguruan tinggi lokal seperti IPB, Universitas Pakuan, dan Universitas Ibnu Khaldun. Mahasiswa semester akhir program Pendidikan Profesi Guru nantinya akan diterjunkan sebagai tenaga pengajar bersifat magang.

“Setiap angkatan akan ditempatkan selama tiga bulan, lalu digantikan angkatan berikutnya dari kampus lain. Targetnya, 150 hingga 200 mahasiswa dapat diterjunkan setiap rotasi,” terangnya.

Sementara langkah keempat adalah dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Satu guru dapat mengajar beberapa kelas sekaligus secara online melalui studio yang disiapkan di kantor Disdik dan terhubung ke sekolah-sekolah.

“Sistemnya mungkin bisa dibilang seperti zoom meeting, jadi satu guru bisa mengajar di beberapa sekolah secara bersamaan,” ungkapnya.

Baca Juga:RS Hasan Sadikin Gunakan Gaslink CNG dari PGN Gagas, Pelayanan Kesehatan Kini Lebih Efisien dan Ramah LingkungKomitmen dalam Pemenuhan Hak Anak, Jateng Kembali Diganjar Penghargaan Provinsi Layak Anak 

Herry menambahkan, tiga strategi pertama sudah mulai berjalan dan ditargetkan rampung pada akhir Agustus ini. Sementara strategi keempat masih menunggu bantuan pihak ketiga untuk penyediaan teknologi dan persiapan lainnya.

“Yang keempat ini targetnya di awal September sudah running. Dengan empat strategi ini, kami optimistis proses belajar mengajar di SD tetap berjalan optimal meski ada keterbatasan jumlah guru,” pungkasnya. (mg1)

0 Komentar