Praktik Beras Oplosan Ancam Stabilitas Sosial, Benarkah?

Praktik Beras Oplosan Ancam Stabilitas Sosial, Benarkah?
Ilustrasi pedagang merapikan beras di Pasar Kosambi, Jalan Jendral Acmad Yani, Kota Bandung, Jumat (25/7). Pedagang menyebutkan kenaikan harga beras ini terjadi di berbagai kota, di toko miliknya harga beras premium naik menjadi Rp16 ribu dari semula Rp15 ribu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

“Tanpa mekanisme sanksi administratif yang keras seperti pencabutan izin permanen dan pemiskinan korporasi pelaku praktik ini akan terus berulang dengan wajah yang berbeda,” tutur Rizal.

Lebih lanjut, pengentasan kejahatan pangan tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi, namun perlu kerja sama antarkementerian yang bersifat sistemik, bukan sekadar koordinatif, yang mana Kementerian Pertanian dan Bulog harus bersinergi membentuk sistem pemantauan mutu dan distribusi yang real-time.

Selain itu, Aparat Penegak Hukum (APH) perlu membentuk unit khusus yang menangani pelanggaran dalam sektor pangan strategis.

Baca Juga:Kontra dengan Kebijakan Gubernur Demul, Farhan: Study Tour Boleh Dilaksanakan!Imbas Larangan Study Tour, 13 Ribu Pekerja Terancam Nganggur!

“Semua aktor, termasuk pemerintah daerah, harus bekerja dalam satu kerangka pengawasan yang terukur, terpantau, dan dapat diintervensi dengan cepat ketika ada penyimpangan,” pungkasnya.

0 Komentar