Indonesia Peringkat 5 Dunia Penderita Diabetes, Minuman ini Jadi Tersangka Utama

Indonesia Peringkat 5 Dunia Penderita Diabetes, Minuman Berpemanis Jadi Tersangka Utama
Indonesia Peringkat 5 Dunia Penderita Diabetes, Minuman Berpemanis Jadi Tersangka Utama
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Jumlah penderita diabetes di Indonesia kini berada pada titik mengkhawatirkan.

Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF) dalam Diabetes Atlas edisi ke-11, Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan 19,5 juta orang dewasa yang hidup dengan penyakit ini.

Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu episentrum diabetes global, setelah China, India, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Baca Juga:Bus Persib Kecelakaan di Thailand Saat TC, Ini Kondisi TerbarunyaDouble Podium, Arsenio dan CRF250R Melesat Kencang di Kejurnas Motocross Magelang

Tak hanya itu, IDF juga memproyeksikan bahwa secara global jumlah penderita diabetes akan meningkat drastis, dari 589 juta orang pada tahun 2024 menjadi 853 juta orang pada 2050.

Lebih mencengangkan lagi, sekitar 40% penderita atau setara 252 juta orang di seluruh dunia bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini.

Indonesia Darurat Diabetes, Minuman Manis Jadi Tersangka Utama

Peningkatan kasus diabetes di Indonesia sangat erat kaitannya dengan pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).

Hal ini ditegaskan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), yang menyebutkan bahwa perubahan gaya hidup dan pola makan menjadi pemicu utama meledaknya penyakit tidak menular (PTM), termasuk diabetes dan obesitas.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mengungkap bahwa angka obesitas di Indonesia melonjak lebih dari dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir, dari 10,5% pada 2007 menjadi 23,4% pada 2023.

Salah satu kontributor terbesar dari lonjakan ini adalah minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, dua dari tiga masyarakat Indonesia mengonsumsi MBDK setidaknya sekali sehari, sebuah kebiasaan yang diam-diam berisiko tinggi.

Baca Juga:Kreativa Global School, Siap Cetak Generasi Emas di Global Parenting Summit BandungAman dan Nyaman Touring, Ini 7 Perlengkapan Wajib Pengendara Motor

CISDI merujuk pada hasil meta-analisis global yang menyebutkan bahwa konsumsi 250 ml MBDK per hari dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis secara signifikan:

  • Diabetes tipe 2: naik sebesar 27%
  • Obesitas: meningkat hingga 12%
  • Penyakit jantung: naik sebesar 13%
  • Risiko kematian dini: melonjak hingga 10%

Kondisi ini bukan hanya menjadi masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak besar terhadap keuangan negara.

Data dari BPJS Kesehatan mencatat, pembiayaan penyakit katastropik seperti diabetes, hipertensi, dan komplikasi obesitas naik 43% dalam lima tahun terakhir, dari Rp19 triliun pada 2019 menjadi Rp32 triliun di 2023.

Sebagai upaya pengendalian, CISDI mendorong pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan Front-of-Package Labeling (FOPL) atau pelabelan gizi di bagian depan kemasan produk makanan dan minuman.

0 Komentar