JABAR EKSPRES – Warga Kampung Pemulung yang berada tepat di dalam kawasan TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diliputi rasa kecemasan.
Mereka takut tempat tinggalnya ikut dibongkar dalam penataan lanjutan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar).
Ditambah kekhawatiran itu muncul setelah bangunan-bangunan semi permanen seperti warung dan pondok tempat beristirahat pemulung di tepi jalan menuju TPA Sarimukti dibongkar.
Baca Juga:1.827 Loker Siap Diperebutkan Pencari Kerja di Banjar Job Fair 2025Dukung Gizi Anak Sekolah, Dapur SPPG Siap Beroperasi di Kabupaten Bandung!
Kebijakan tersebut disebut-sebut sebagai bagian dari penataan sistem pengelolaan dan tata kelola lingkungan di kawasan TPA regional se-Bandung Raya itu.
Meski pemilik bangunan yang dibongkar mendapat kompensasi dalam bentuk uang kontrakan sementara, warga yang tinggal lebih dalam di area TPA khususnya di Blok Ciherang atau yang dikenal sebagai Kampung Pemulung merasa masa depan mereka belum jelas.
“Kami khawatir, takutnya habis warung dibongkar, giliran tempat tinggal kami yang dibongkar. Ini kan sudah tiga kali kami pindah, kalau digusur lagi kami tinggal di mana?” kata Nandang Beceng (54), tokoh masyarakat yang memimpin komunitas pemulung di Kampung Pemulung, Rabu (23/7/2025).
Nandang menjelaskan, sedikitnya ada 50 kepala keluarga atau sekitar 165 jiwa yang menghuni kawasan itu. Mereka semua lanjut dia, menggantungkan hidup sebagai pemulung, dengan latar belakang berasal dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Purwakarta, Cianjur, hingga Sumedang. Meski sudah lama bermukim, mereka belum memiliki status domisili resmi di Desa Cipatat maupun Desa Sarimukti.
“Kalau secara administrasi kami belum tercatat, tapi secara nyata kami hidup di sini. Bahkan tiap HUT RI, kami diundang ikut upacara,” ujarnya.
Bangunan-bangunan di Kampung Pemulung umumnya berdiri dari bahan seadanya dan berukuran kecil, hanya sekitar 10–20 meter persegi.
Nandang mengatakan, keberadaan kampung ini awalnya lahir dari inisiatifnya menyatukan para pemulung yang sebelumnya berpencar di area hutan dan zona TPA lama.
Baca Juga:Di Thailand, Persib Bangun Kekuatan dari KebersamaanGyokeres Datang, Arsenal Kirim Sinyal Serius Perebut Gelar
“Kami ingin tinggal lebih manusiawi, makanya dibangun jadi satu kawasan. Tapi sekarang kami cemas, jangan sampai digusur lagi tanpa arah yang jelas,” ungkapnya.
Warga Kampung Pemulung, kata Nandang, tidak menolak program penataan yang digagas Gubernur Dedi Mulyadi, namun berharap kebijakan tersebut tidak mengabaikan nasib mereka.
