JABAR EKSPRES – Dunia olahraga Kota Banjar dilanda krisis kepercayaan, terlebih dari para atlet jelang Babak Kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2025. Tiga atlet berprestasi, termasuk dua pembalap motor nasional, memutuskan hengkang ke daerah lain akibat minimnya dukungan dan kepastian pembinaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar.
Ketua KONI Kota Banjar, Soedrajat Argadireja, mengonfirmasi kepindahan Akbar Abud Afdalah (pembalap motor) ke Kabupaten Bogor, Ari Febriansyah (grasstrack) ke Kota Bandung, dan Indra Fauzi Wibawa (gateball) ke Cianjur. “Mereka sudah mengajukan mutasi karena tidak ada kepastian pembinaan,” tegas Soedrajat, Selasa (22/7/2025).
Kepergian ini merupakan pukulan berat mengingat rekam prestasi ketiganya, yakni Akbar peraih emas PON XXI Aceh-Sumut dan Porprov Jabar, sementara Ari meraih perak Porprov Jabar dan runner-up PON Sumut.
Baca Juga:Tarif Impor AS 1 Agustus Tak Berlaku Bagi RI?Seleksi Dewan Pengawas LPI Dibuka, Ini Syaratnya!
Soedrajat yang akrab disapa Ajat Doglo, mengungkap akar masalahnya. Pemkot Banjar sama sekali tidak menganggarkan dana untuk babak kualifikasi Porprov Jabar.
“Ternyata anggarannya nol rupiah. Jangankan pembinaan atlet, persiapan kompetisi pun tak ada. Ripuh-lah!” keluhnya. Padahal, KONI sebelumnya mengajukan Rp1,3 miliar ke APBD, tetapi hanya direalisasikan Rp350 juta.
KONI memberi ultimatum hingga 25 Juli kepada pemkot untuk mengambil sikap. “Kami beri batas waktu. Jangan sampai Banjar sekadar jadi tempat lahir, tapi karier atlet berkembang di luar,” tegas Ajat Doglo.
Ia menekankan bahwa atlet butuh kepastian jangka panjang, bukan sekadar bonus insidental.
Tanpa dukungan anggaran nyata, upaya ini diragukan mampu mengubah keputusan atlet yang telah mendapat tawaran fasilitas lebih baik dari daerah lain. “Kalau pemerintah daerah kita bela saja tak peduli, ngapain kita harus maju?” tandas Ajat.
Wali Kota Banjar, H. Sudarsono, mengakui keterbatasan keuangan daerah. Dalam pertemuan dengan KONI, ia menyatakan APBD tidak memungkinkan untuk perubahan anggaran mendadak. Solusi yang ditawarkan adalah mencari sponsor atau dana CSR perusahaan BUMN.
“Untuk enam bulan ke depan, kita cari solusi lewat CSR atau sponsor. Penganggaran baru akan diajukan di APBD 2026,” ujarnya.
Baca Juga:Dedi Mulyadi Kukuh Larang Study Tour, Tuding Aksi Demo Didukung Asosiasi JEP Jogja!Sebut Proyek Mangkrak Normalisasi Drainase Rancaekek Tanggungjawab Pemprov, Bupati Bandung: Kita Kerepotan
Namun, Ajat menilai respons ini lamban dan tidak konkret. “Batas mutasi atlet akhir Juli ini. Jangan sampai atlet di-php terus!” tegasnya.
