UNIBI Buat Film Dokumenter “Usik Sanyiru Padanan”, Lestarikan Warian Budaya Lokal dengan Digitalisasi

UNIBI Buat Film Dokumenter "Usik Sanyiru Padanan", Lestarikan Warian Budaya Lokal dengan Digitalisasi
Sejumlah anggota pencak silat perguruan Panglipur Pamager Sari saat foto bersama mahasiswa dan dosen FKD UNIBI, dalam kegiatan PKM membuat film dokumenter pelestarian warisan budaya lokal dengan digitalisasi. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengenalan sekaligus pelestarian warisan budaya lokal, harus jadi perhatian serta peran semua pihak. Tak sebatas tugas pemerintah tapi juga tanggung jawab masyarakat.

Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), diketahui tengah melaksanakan kegiatan lapangan, berupa pengambilan video dokumenter dan pemaparan sejumlah pihak dalam upaya melestarikan warisan budaya lokal Usik Sanyiru Padanan.

Melalui informasi yang dihimpun Jabar Ekspres, warisan budaya lokal Usik Sanyiru Padanan merupakan jurus khas dari tradisi pencak silat perguruan Panglipur Pamager Sari, yang keberadaannya begitu erat dengan sejarah.

Baca Juga:Desak Bulog Serap Tambahan Satu Juta Ton Beras, Ini Alasan Zulhas!Pria di Baleendah Tewas Dikeroyok, Polisi Lakukan Ekshumasi

Pengenalan sekaligus pelestarian warisan budaya lokal itu, dilakukan sebagai bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), oleh Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) UNIBI di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Ketua Tim PKM FKD UNIBI, Nugraha Sugiarta mengatakan, pengabdian ini merupakan kolaborasi antara dua program studi, yaitu Prodi Ilmu Komunikasi dan Desain Komunikasi Visual (DKV).

“Dua Prodi ini masih di bawah FKD dan kolaborasi lintas bidang ini memperkuat pendekatan riset naratif, sinematografi, storytelling visual, serta strategi promosi budaya berbasis digital,” katanya kepada Jabar Ekspres, Jumat (18/7).

Dijelaskan Nugraha, pengabdian yang dilakukan merupakan bagian dari proses produksi film dokumenter budaya, dengan durasi 15 hingga 30 menit.

“Bertujuan merekam sejarah, nilai filosofis, serta praktik jurus Usik Sanyiru Padanan secara utuh,” jelasnya.

Diketahui, Nugraha juga merupakan penulis buku “Menyigi Komunikasi Usik Sanyiru Padanan (Refleksi Spiritualitas dalam Kajian Filosofis Kesundaan)”, yang mengkaji secara mendalam sisi spiritual dan komunikasi budaya dari jurus tersebut.

“Dokumenter ini dirancang sebagai media pelestarian, edukasi, sekaligus promosi budaya berbasis visual ethnography dan narasi partisipatif,” bebernya.

Baca Juga:Berjalan Dua Bulan, Nilai BSU Tembus Rp6,88 Triliun!Volume APBD Perubahan 2025 Bakal Naik jadi Rp32,82 Triliun, Efek Pemutihan Pajak?

Nugraha memaparkan, dokumentasi budaya melalui pendekatan digital merupakan keniscayaan. Sebab, menurutnya, digitalisasi adalah jembatan antara nilai-nilai luhur budaya dan generasi digital.

“Warisan seperti Usik Sanyiru Padanan harus hadir dalam ruang virtual agar tetap hidup dan berkembang,” papar Nugraha.

Pria bertubuh tinggi berkaca mata itu mengungkapkan, salah satu pihak utama yang memberikan pemaparan dalam film dokumenter ini adalah Guru Besar Perguruan Panglipur Pamager Sari, Asep Gurwawan.

0 Komentar