Kenapa Jagung Turbo Menghilang?
Seiring berjalannya waktu, popularitas Jagung Turbo mulai meredup. Persaingan camilan di Indonesia semakin ketat, terlebih dengan masuknya berbagai snack dari luar negeri. Produk-produk seperti Chiki Balls, Lays, hingga snack asal Korea Selatan hadir dengan varian rasa yang lebih beragam, kemasan modern, dan promosi yang masif di media sosial maupun televisi.
Sementara itu, Jagung Turbo tampak tertinggal. Tidak ada inovasi rasa, desain kemasan nyaris tidak berubah, dan hadiah di dalamnya pun mulai membosankan karena kurang bervariasi. Yang paling disayangkan, produsen camilan ini seolah tidak berusaha mengejar zaman: tidak aktif di media sosial, tidak ada promosi digital, dan tidak ada iklan baru. Seolah-olah membiarkan produk ini tenggelam dan dilupakan.
Kini, Jagung Turbo sulit ditemukan, bahkan di toko-toko camilan nostalgia sekalipun. Produk yang dulu sangat dicintai ini seolah menghilang tanpa perlawanan di tengah gelombang inovasi dan tren baru. Padahal, bagi banyak orang, camilan ini menyimpan begitu banyak kenangan manis.
Baca Juga:Mengungkap Penipuan Aplikasi 68EA Terbukti Scam Berkedok Investasi KriptoPanduan Lengkap Cek Air Radiator Tanpa Buka Tutup Radiator
Semoga suatu hari nanti, Jagung Turbo bisa bangkit kembali, tentu dengan pembaruan rasa, kemasan, dan strategi pemasaran yang relevan dengan zaman.
Fakta Menarik di Balik Jagung Turbo
Banyak orang penasaran, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar Jagung Turbo? Siapa produsen snack legendaris ini dan mengapa mereka tidak mampu bertahan di tengah gempuran pasar?
Dari berbagai sumber, diketahui bahwa Jagung Turbo diproduksi oleh perusahaan lokal bernama PT Simba Indo Snack Makmur. Merek Simba sendiri lebih dikenal lewat produk sereal sarapan, namun mereka juga sempat merambah ke kategori snack ringan, salah satunya adalah Jagung Turbo.
PT Simba Indo Snack Makmur sebelumnya dimiliki oleh perusahaan asal India, yaitu Godrej Consumer Products Ltd. (GCPL). Akuisisi dilakukan pada tahun 2010 sebagai bagian dari ekspansi bisnis GCPL ke pasar Indonesia. Namun, pada tahun 2013, GCPL memutuskan untuk melepas kepemilikan atas Simba. Alasannya, bisnis makanan dianggap tidak lagi sejalan dengan fokus inti mereka, yang lebih mengarah ke produk perawatan rumah tangga dan perawatan pribadi.
