Sesar Lembang Circle: Narasi, Mitigasi, dan Kolaborasi Hadapi Ancaman Nyata Bandung

Sesar Lembang Circle: Narasi, Mitigasi, dan Kolaborasi Hadapi Ancaman Nyata Bandung
0 Komentar

Senada dengan itu, Adi Panuntun menekankan pentingnya kekuatan narasi populer dalam membentuk kesadaran kolektif. Ia berpendapat bahwa kampanye mitigasi semestinya bisa dikemas sekuat narasi komersial.

“Bayangkan kalau narasi kebencanaan masuk ke musik, seni jalanan, dan pop culture. Edukasi seharusnya tidak menakutkan, tapi justru menggerakkan,” ungkapnya.

Zahra Khairunnisa, peneliti muda di bidang perencanaan kota, menyoroti pentingnya integrasi antara data ilmiah dan pengambilan kebijakan. Ia menyatakan bahwa tantangannya bukan hanya pada patahan geologi, tapi juga pada patahan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Menurutnya, urban planning harus berani mengakomodasi skenario terburuk, bukan sekadar mengejar proyek jangka pendek.

Baca Juga:PGN Tangguh Hadapi Gejolak Global, Fokus Domestik Jadi Pilar Ketahanan BisnisWarga Protes Penutupan Akses Ciroyom–Arjuna, Minta Jembatan Penyeberangan Segera Dibangun

Sementara itu, Atep menekankan urgensi kolaborasi semua pihak dalam membentuk ekosistem kesiapsiagaan yang menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa Sesar Lembang bukanlah dongeng ilmiah.

“Ini nyata dan bisa terjadi kapan saja. Tapi alih-alih menakuti, kita harus mengajak semua pihak membentuk ekosistem baru: edukatif, kolaboratif, dan partisipatif,” tegasnya.

Ia pun optimistis Bandung bisa menjadi contoh nasional dalam kesiapsiagaan berbasis komunitas.

Saat ini, Kota Bandung tengah tumbuh pesat. Namun pertumbuhan tanpa mitigasi berpotensi menghadirkan risiko besar. Forum Sesar Lembang Circle hadir sebagai ruang awal untuk membangun Bandung yang resilien, bukan hanya lewat regulasi, tapi melalui keterlibatan warganya sendiri.

Dengan kolaborasi lintas jurusan dan angkatan alumni ITB, komunitas kreatif, dan para peneliti muda, acara ini diharapkan memicu inisiatif yang lebih luas, mulai dari edukasi kebencanaan berbasis komunitas, pelibatan warga dalam simulasi, hingga advokasi kebijakan tata ruang berbasis risiko.

“Bandung bukan hanya soal kreativitas, tapi juga soal ketahanan Ini saatnya kita bicara, bergerak, dan saling menjaga.” pungkas Atep.

Laman:

1 2
0 Komentar