Selain itu, Bandung adalah magnet wisata, khususnya bagi warga Jabodetabek. Di akhir pekan, jalur Pasteur, Setiabudi, Lembang, hingga Riau macet total. Tak jarang, pengunjung menghabiskan waktu lebih lama di jalan dibandingkan menikmati tempat wisata.
“Bandung butuh kebijakan yang lebih progresif dalam mengelola wisata, seperti pembatasan kendaraan luar kota, pengelolaan parkir terpadu, atau insentif penggunaan transportasi umum,” tambah Yudi.
Berbagai proyek infrastruktur seperti flyover, underpass, dan pelebaran jalan telah dibangun. Namun, menurutnya, semua itu hanya solusi jangka pendek. Akar masalahnya tetap belum disentuh, pembatasan kendaraan pribadi dan penguatan sistem transportasi massal.
Baca Juga:Diduga Terlibat kasus Video Syur, Lisa Mariana Dilaporkan ke Polda JabarIni Rincian Realisasi APBD Jabar Menurut Data Kemenkeu
Koordinasi antara Pemkot Bandung, Pemprov Jawa Barat, dan pemerintah pusat juga kerap kali berjalan sendiri-sendiri. Hal ini membuat banyak proyek perencanaan gagal dieksekusi dengan optimal.
Belum lagi, wilayah Bandung Raya kini berkembang pesat, terutama di Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat. Pembangunan apartemen dan perumahan baru tidak diiringi dengan penyediaan angkutan umum yang memadai. Akibatnya, setiap pagi, ratusan ribu warga dari luar kota berbondong-bondong masuk ke pusat Bandung menggunakan kendaraan pribadi.
“Kalau terus seperti ini, Bandung akan jadi jauh lebih parah karena kurangnya kepekaan terhadap itu semua,” pungkasnya (dam)
