“Kita sadar saat ini tidak punya perwakilan di parlemen. Maka kita tidak bisa ikut merumuskan kebijakan, terutama soal kepemiluan. Karena itu kita harus memperkuat diri dari bawah,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap sejarah partai dan ideologi sebagai fondasi gerakan. Meski sebagian pihak menganggap ideologi tak lagi relevan, Supriatna justru menyebut bahwa ideologi Islam yang menjadi dasar PPP adalah arah gerak yang harus terus diperjuangkan.
“PPP merupakan hasil fusi dari empat partai politik. Kita juga tekankan pentingnya ideologi, karena PPP adalah satu-satunya partai yang berasaskan Islam. Bahkan visinya jelas dan terwujudnya masyarakat yang bertakwa,” jelasnya.
Baca Juga:Persib Bandung Ditahan Imbang Dewa United 1-1, Gol William Marcilio Terbalas Pinalti di Menit AkhirLiburan Asyik ke Blok M, Warga Bogor Pilih Bus Transjabodetabek P11 daripada KRL
Adapun setelah pelatihan, para kader tidak hanya mendapat pemahaman dasar soal sejarah dan organisasi, tapi juga diberi tanggung jawab untuk melaksanakan rencana tindak lanjut.
Dengan arah gerak yang lebih terstruktur dan akar ideologi yang terus digali, PPP Jawa Barat berharap bisa bangkit dan menjadi kekuatan politik yang kembali dipercaya masyarakat, khususnya di akar rumput.
“Mereka harus paham aturan organisasi, termasuk AD/ART-nya. Hari ini PPP sedang fokus pada tiga hal penting, kembali ke pesantren, peduli pada lingkungan, dan pemberdayaan desa,” tandas Supriatna. (Mong)
