Laga Persib vs Port FC Tercoreng, Tarif Parkir Liar Lebih Sadis dari Tiket Pertandingan!

Sejumlah Bobotoh sedang mencari parkir di area Si Jalak Harupat/H Priyadi/Jabar Ekspres/
Sejumlah Bobotoh sedang mencari parkir di area Si Jalak Harupat/H Priyadi/Jabar Ekspres/
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sepak bola seharusnya jadi hiburan rakyat, bukan ajang menguras kantong. Tapi di laga Persib Bandung kontra Port FC dalam Piala Presiden 2025, kenyataan pahit justru menyambut ribuan suporter: harga parkir yang lebih mahal dari tiket masuk!

Banyak penonton terkejut saat menemukan tarif parkir motor tembus Rp50 ribu, dan mobil dibanderol Rp100 ribu. Padahal, harga tiket resminya hanya Rp50 ribu. Ibarat beli nasi Padang, tapi yang mahal justru sendoknya.

Fenomena parkir liar ini membuat penonton mengeluh. “Saya datang mau nonton bola, bukan dijebak pungli,” ujar seorang suporter asal Cimahi.

Baca Juga:Dedi Mulyadi Kembali Singgung Kasus Korupsi Yayasan Al Ihsan, Terima Kucuran APBD Rp 11,9 MiliarHUT Cimahi Selatan Jadi Momentum Lawan Premanisme dan Geng Motor, Camat Suarakan Sikap Tegas

Kondisi ini langsung memicu respon cepat dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandung. Bersama TNI, aparat turun tangan melakukan penertiban di sekitar Stadion Si Jalak Harupat pada Minggu (6/7/2025).

Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono menyebut tarif tersebut tidak masuk akal dan mencoreng nama baik Jawa Barat sebagai tuan rumah turnamen. “Tiketnya Rp50 ribu, parkir dua kali lipatnya. Ini jelas merugikan masyarakat,” katanya geram.

Petugas mencopot spanduk-spanduk tarif parkir liar dan memperingatkan pemilik lahan yang mematok tarif semaunya. “Kami tidak segan menutup akses lahan seperti ini,” tegas Aldi.

Yang lebih menyakitkan, tarif resmi parkir di dalam area stadion sebetulnya hanya Rp10 ribu. Artinya, selisihnya bisa sampai 900% lebih mahal!

Aldi menegaskan, ini bukan hanya soal uang. Tapi soal keadilan dan pengalaman suporter. “Jangan sampai orang dari luar daerah pulang dengan rasa kesal. Stadion harusnya tempat bersenang-senang, bukan ajang pemalakan terselubung,” katanya.

Momen pertandingan besar yang harusnya jadi kebanggaan justru dinodai oleh mental pedagang untung sesaat. Ingin cuan cepat, tapi mengorbankan citra daerah dan kenyamanan banyak orang.

Penonton seharusnya bisa fokus menikmati pertandingan tanpa perlu khawatir akan biaya-biaya tambahan yang membebani.

Baca Juga:Pemprov Jateng telah Salurkan Rp479 Juta untuk Penghafal Al QuranDinyatakan Tersesat, Enam Orang Asal Jakarta Berhasil Berkumpul Kembali Usai Tracking di Bogor

Polisi menegaskan bahwa pengawasan akan terus dilakukan pada laga-laga berikutnya demi mencegah praktik serupa terulang.

Kenyamanan suporter bukan hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga pengalaman menyeluruh dari awal datang hingga pulang.

Dengan menindak tegas aksi getok harga, aparat berharap stadion tetap menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua kalangan.

0 Komentar