Penurunan ini memang berkat platform digital semata, atau ada faktor lain seperti pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang lebih dominan. Pemerintah belum menjelaskan secara gamblang kontribusi kuantitatif Sidakeptri terhadap penyerapan tenaga kerja.
Aksesibilitas aplikasi pun masih jadi soal. Meski secara teknis terbuka untuk umum, Asep menyebutkan, program pelatihan hanya diperuntukkan bagi warga Cimahi. Di sisi lain, informasi lowongan kerja bisa bersifat lintas daerah, termasuk dari luar Cimahi, seperti Bekasi.
“Kalau untuk pelatihan-pelatihan, pasti warga Cimahi yang akan kami terima,” katanya.
Baca Juga:Martasandy Group Kembali Gelar Sunat Eksklusif Gratis untuk MasyarakatBelum Ada Halte Transjabodetabek P11 di Bogor, Dishub: Sabar Dulu!
“Contoh, kalau misalnya untuk lowongan kerja, bisa saja orang Bekasi punya perusahaan, dia membutuhkan tenaga kerja. Ya kita adopsi saja. Nanti orang Cimahi bisa mengakses itu, bisa melamar itu,” sambung Asep.
Dengan segala keterbatasannya, Sidakeptri belum cukup menjawab persoalan mendasar ketenagakerjaan di Cimahi.
Persoalan ini bukan sekadar soal penyediaan informasi, tapi juga menyangkut kualitas tenaga kerja, distribusi kesempatan, hingga problem struktural dalam dunia industri lokal.
“Tanpa intervensi kebijakan yang lebih komprehensif, pengangguran di Cimahi berisiko kembali naik, meskipun angka saat ini tampak menurun. Sidakeptri bisa menjadi alat bantu, tapi bukan jawaban tunggal,” tukasnya. (Mong)
