“Asumsi awalnya adalah Bumi akan terus melambat. Maka, percepatan ini sungguh mengejutkan,” ujar Judah Levine, fisikawan dari Institute of Standards and Technology, Amerika Serikat.
Hal senada disampaikan Leonid Zotov, pakar rotasi Bumi dari Universitas Negeri Moskow, yang menyebut fenomena ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah.
“Diduga berasal dari sesuatu di dalam Bumi, tapi belum bisa dipastikan,” katanya.
Baca Juga:Brasil Ancam Gugat Indonesia atas Kematian Juliana Marins di Rinjani Jika Terbukti Ada KelalaianViral Warga Bandung Kena Prank, Korban Pembegalan di TPU Cikadut Ternyata Bohong
Selain pengaruh Bulan, bencana gempa bumi besar juga dapat mempercepat rotasi Bumi.
Contohnya adalah gempa Jepang tahun 2011 berkekuatan 9,0 SR yang menggeser poros Bumi sejauh 17 cm dan mempersingkat durasi hari.
“Gempa ini menggerakkan massa lebih dekat ke sumbu rotasi, membuat Bumi berputar lebih cepat,” jelas Richard Gross, peneliti dari NASA Jet Propulsion Laboratory.
Hal serupa juga terjadi saat gempa besar di Aceh tahun 2004, yang memperpendek hari sekitar 2,68 mikrodetik.
Dengan banyaknya variabel yang mempengaruhi rotasi Bumi, IERS kini terus melakukan pengamatan intensif.
Mereka akan mengonfirmasi seberapa pendek hari-hari selama Juli–Agustus 2025 dan apakah percepatan ini akan menjadi tren jangka panjang atau hanya bersifat sementara.
Meski durasi hari hanya berubah dalam hitungan milidetik, implikasinya bisa sangat besar dalam sistem navigasi global, satelit, pengukuran waktu, hingga kestabilan teknologi GPS.
Baca Juga:Resmi Meluncur, Vivo Y19s Pro Bawa Baterai Jumbo 6.000 mAh Harga Rp1 JutaanCairkan Saldo DANA Gratis hingga Rp162 Ribu Khusus Pengguna Baru, Ikuti Caranya Disini
Perubahan kecil pada waktu, jika tidak disesuaikan, bisa menimbulkan dampak serius pada jaringan komunikasi dan sistem komputerisasi modern.
Untuk itu, para ilmuwan kini berpacu mengungkap penyebab pastinya, karena Bumi yang berputar lebih cepat dari seharusnya adalah teka-teki yang belum terpecahkan.
