JABAR ESKPRES – Dalam lintasan sejarah, batu akik bukan sekadar perhiasan yang menghiasi jari para leluhur Nusantara. Di balik kilaunya yang memesona, tersimpan jejak panjang perjalanan spiritual, keyakinan, dan kearifan lokal. Bagi kalangan ulama, kiai, hingga para wali, batu akik sering kali bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi wasilah, perantara dalam zikir, tafakur, bahkan penjaga batin dalam menempuh laku tirakat dan proses penyucian diri.
Terdapat keyakinan bahwa beberapa jenis batu pilihan memiliki energi alami yang selaras dengan niat suci penggunanya. Sebagian batu diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan pesantren, sementara sebagian lainnya datang dari negeri-negeri jauh seperti Yaman, Persia, hingga India, membawa aura ketenangan, kekuatan batin, serta ketajaman basyirah (mata hati) untuk menatap hakikat kehidupan.
Namun perlu digarisbawahi, bagi para ulama sejati, kekuatan sejati tidak terletak pada batu itu sendiri. Niat, doa, dan ketakwaan kepada Allah-lah yang menjadi inti kekuatan tersebut. Batu hanya menjadi simbol, pengingat, serta sarana untuk menyatukan diri dalam zikir yang khusyuk. Ia mencerminkan sikap hidup yang penuh kesederhanaan, kesabaran, serta keterhubungan jiwa dengan alam dan Sang Pencipta.
Baca Juga:10 Batu Safir Termahal di Dunia yang Pernah DilelangFakta Mengejutkan di Balik Janji 19 Juta Lapangan Kerja
Meskipun banyak diyakini memiliki kekuatan spiritual, seperti perlindungan dari energi negatif, peningkat karisma, atau pembawa keberuntungan, keyakinan ini bersifat budaya dan tidak memiliki dasar teologis dalam ajaran Islam. Ulama memahaminya sebagai simbol, bukan sumber kekuatan.
7 Batu Akik Ulama
Berikut ini adalah beberapa batu akik yang secara turun-temurun dikenal dan digunakan oleh para ulama, baik di Nusantara maupun di dunia Islam, lengkap dengan makna, asal-usul budaya, serta perannya dalam tradisi keilmuan dan ketakwaan:
Batu Akik Yaman (Yaman Wulung)
Berasal dari dataran tinggi Yaman, khususnya daerah Najran dan Sana’a. Batu ini umumnya berwarna merah kecokelatan, hitam pekat, dan kadang dapat tembus cahaya jika disorot lampu. Permukaannya halus dan mengilap.
Dalam tradisi Islam, disebutkan bahwa Nabi Muhammad memakai cincin akik yang berasal dari Yaman. Oleh karena itu, batu ini kerap disebut sebagai batu sunah. Di kalangan ulama, khususnya di pesantren-pesantren tua di Jawa, batu ini digunakan sebagai wasilah zikir malam atau tirakat panjang.
