Masyarakat diajarkan untuk tunduk, patuh, dan taat tanpa diberi ruang untuk berpikir. Jika ada yang sedikit mempertanyakan, langsung dicap sebagai pemberontak. Padahal, meskipun agama dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang, agama seharusnya tidak mengajarkan ketaatan buta.
Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Masyarakat diminta untuk percaya tanpa menggunakan logika. Banyak orang lebih takut pada ucapan tokoh agama daripada pada hukum. Mereka lebih percaya pada ceramah dibandingkan data, lebih patuh pada nasihat dibandingkan pendidikan formal.
Hasilnya? Semakin banyak orang yang terlihat taat, namun sayangnya, maaf untuk mengatakannya, semakin banyak pula yang mudah ditipu. Semakin rajin ibadah, tapi mudah dimanipulasi. Agama akhirnya digunakan sebagai alat untuk mengendalikan kehidupan manusia, bukan sebagai jalan untuk memperbaiki diri.
Baca Juga:Gudang Garam Terancam Bangkrut, Ancaman Rokok Ilegal dan Vape Makin NyataAplikasi AMV Mengklaim Legal dan Punya Kantor Tapi Penghasil Uang Skema Ponzi
Yang lebih menyedihkan lagi, banyak yang merasa imannya semakin kuat, meski pikirannya semakin sempit. Ini bukan kesalahan agama, melainkan karena terlalu banyak orang yang merasa berhak mewakili Tuhan, padahal dalam kesehariannya lebih sering mengumpat ketimbang berdoa. Mereka mudah menuduh orang lain sebagai kafir dan sesat, padahal mereka sendiri hidup dalam dosa yang dibungkus dengan sorban dan simbol-simbol kesucian.
Kamu lupa bahwa Tuhan tidak perlu dipromosikan dengan kebencian. Sudah saatnya kita menyadari bahwa agama bukanlah alat untuk bertindak licik, bukan pula panggung untuk mengejar kekuasaan. Agama seharusnya menjadi jalan menuju moralitas dan kemanusiaan, bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling benar di mata orang lain.
Jadi, ketika kamu melihat seseorang yang tampak religius namun perilakunya menyimpang, jangan kaget dan jangan pula mengikuti mereka. Mereka bukanlah sosok yang layak dijadikan panutan, apalagi dianggap pemimpin spiritual.
Pembenaran Kebodohan
Kini kita harus menyadari bahwa semua yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan pribadi atau kesalahan individu. Ini adalah penyakit struktural, penyakit yang telah mengakar lama, disiram dengan simbol-simbol keagamaan, dipupuk dengan fanatisme, dan dibiarkan tumbuh liar tanpa kendali.
Agama yang seharusnya menjadi jalan pembebasan justru telah berubah menjadi perangkap kolektif yang menjerat nalar, hati nurani, dan rasa kemanusiaan. Negara ini sibuk membangun citra religius, tetapi di balik itu, hati dan pikirannya kosong.
