Minuman berenergi seperti Mountain Dew, Red Bull, dan sejenisnya kembali populer dan laku keras pada era 1980 hingga 1990-an. Kepopuleran ini dipicu oleh strategi pemasaran besar-besaran dari merek-merek seperti Red Bull dan Monster, yang gencar mengiklankan produk mereka dalam berbagai ajang olahraga bergengsi, seperti tinju, balapan, dan sebagainya.
Di era yang sama, Indonesia pun mulai mengenal minuman berenergi. Pionirnya adalah produk seperti Extra Joss—minuman serbuk dalam kemasan sachet yang strategi pemasarannya tidak jauh berbeda dengan produk-produk serupa: penuh dengan slogan seperti “auto semangat”, “langsung melek”, dan “anti loyo”.
Sisi Gelap Minuman Berenergi
Seiring waktu, minuman berenergi di Indonesia semakin melokal dengan munculnya produk dalam kemasan botol atau kaleng seperti Power F, Panther, dan lainnya. Akibatnya, minuman berenergi kini bahkan dianggap sebagai minuman yang menyegarkan, bahkan menyehatkan.
Baca Juga:7 HP Terbaru 2025 dengan Baterai di Atas 5000 mAh, Resmi Rilis di IndonesiaSmadav Pernah Jaya, Tapi Kenapa Sekarang Mulai Dilupakan?
Masalahnya, semua slogan tersebut, terutama klaim sebagai suplemen kesehatan, pada dasarnya hanyalah strategi pemasaran. Industri makanan dan minuman sejak dulu memang dikenal bermain “kotor”, dan hal ini tidak hanya terjadi pada merek kecil, tetapi juga melibatkan merek besar dan ternama.
Contohnya, Nestlé, yang terkenal dengan produk-produk manis untuk anak-anak, pada kenyataannya lebih banyak menjual gula. Banyak pula produk yang mengklaim diri sebagai sehat, rendah gula, atau rendah kalori, tetapi sebenarnya hanya memanipulasi informasi gizi.
Mereka menampilkan angka seolah kandungan gulanya rendah, padahal jumlah tersebut berlaku hanya untuk satu takaran saji. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak—misalnya 10 sachet atau 10 botol—kandungan gulanya bisa sangat tinggi.
Sisi gelap seperti ini menunjukkan betapa kotornya praktik promosi yang dilakukan oleh banyak perusahaan besar makanan dan minuman kemasan, termasuk perusahaan minuman berenergi. Faktanya, produk-produk tersebut hanya menjual kafein dan gula, tanpa benar-benar membawa manfaat kesehatan.
Sudah banyak dokter dan ahli gizi yang menyampaikan bahwa minuman berenergi bukanlah suplemen kesehatan, melainkan hanya minuman “hiburan” yang tinggi kafein dan gula. Bahkan, beberapa produk mengandung gula hingga lebih dari 30 gram per sajian, padahal anjuran konsumsi gula harian manusia hanya sekitar 50 gram agar tetap sehat.
