JABAR EKSPRES – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita ingatkan memitigasi risiko dampak perang Iran-Israel pada industri.
Terutama dalam ketergantungan industri dalam negeri pada energi impor sebagai bahan baku maupun komponen input produksi.
Ia menyampaikan, mitigasi juga dibutuhkan untuk mengantisipasi gangguan pada rantai pasok global terutama pada rantai pasok bahan baku industri karena jalur logistic dan produk ekspor melewati Timur Tengah yang sedang dilanda konflik terbuka saat ini.
Baca Juga:Berakhirnya Pelaksanaan Efisiensi, Pemerintah Buka Blokir Anggaran hingga Rp129 TriliunPemkot Bandung Targetkan Penurunan Angka Pengangguran Sentuh 50 Persen dalam Kurun Waktu 5 Tahun
Selain itu, Menperin juga mengingatkan industi manufaktur juga memitigasi dampak perang Iran-Israel terhadap gejolak nilai tukar mata uang yang berakibat terhadap inflasi harga input produksi dan penurunan daya saing ekspor produk.
Menurutnya, energi bagi industri adalah sesuatu yang vital, tidak hanya sebagai sumber energi produksi tetapi juga sebagai bahan baku dalam proses produksi.
“Karena itu, industry dalam negeri diminta lebih efisien dalam penggunaan energi dalam proses produksi. Penggunaan energi lebih efisien dari berbagai sumber dapat meningkatkan produktivitas dan saya saing produk industry. Hal ini juga sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional sebagaimana telah dicanangkan oleh Presiden Prabowo,” katanya.
Pelaku industry diharapkan tidak hanya menggunakan energi secara efisien, namun juga mendiversikan sumber energi yang digunakan dalam produksi.
Hal ini pun menjadi krusial mengingat ketrgantuan pada energi fosil impor, terutaama yang berasal dari kawasan Timur Tengah, semakin beresiko di tengah konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Bahkan, Kemenperin juga terus mendorong supaya sektor manufaktur bisa menghasilkan produk-produk yang mendukung program ketahanan energi nasional, seperti mesin pembangkit, infrastruktur energi dan komponen pendukung energi terbarukan.
Di sektor pangan, Menperin menyoroti urgensi hilirisasi produk agro sebagai respons strategis terhadap dampak tidak langsung perang Iran-Israel terhadap ekonomi global.
Baca Juga:DLH Kota Cimahi akan Fokuskan Pelarangan Plastik Sekali PakaiDialog Dini Hari dan ‘Suara yang Bertumbuh’ Usai Perjalanan yang Lama
Konflik tersebut telah menyebabkan lonjakan biaya logistic internasional, mendorong inflasi global, dan memicu gejolak nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ketiga factor ini, logistic, inflasi dan nilai tukar secara langsung meningkatkan harga bahan baku dan produk pangan impor. Maka jawabannya adalah hilirisasi produk pangan dalam negeri. Industry kita harus mengambil peran dalam memproses hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan domestic agar tidak terus bergantung pada bahan baku pangan impor,” jelas Menperin.
