Sabit Terakhir di Ladang Dampak Alih Fungsi: Potret Senyap Petani Kecil

Ali, petani sepuh asal Citapen, Cihampelas, Bandung Barat tengah memanen padi di lahan yang kian menyempit karena pembangunan perumahan. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Ali, petani sepuh asal Citapen, Cihampelas, Bandung Barat tengah memanen padi di lahan yang kian menyempit karena pembangunan perumahan. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

Pompanisasi memang digencarkan sejak akhir 2023 untuk menjaga pasokan air, bahkan memungkinkan masa tanam keempat dalam setahun. Namun itu solusi jangka pendek yang rapuh jika lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi lahan.

“Kami terus menggencarkan pompanisasi di berbagai wilayah, termasuk daerah tadah hujan. Ini dilakukan untuk membantu para petani agar produktivitas mereka tidak menurun,” jelasnya.

Bandung Barat saat ini mungkin terlihat aman dari sisi produksi. Tapi jika alih fungsi lahan terus menerus dibiarkan, ketahanan pangan di KBB akan terancam.

Baca Juga:JPO Cibinong Siap Dibangun 2026, Usung Konsep Ini!Sequis Life Tegaskan Komitmen pada Kesehatan Menyeluruh Usia Produktif Lewat Health Talk Spesial HUT ke-41

Fenomena konversi lahan yang kerap menguntungkan secara ekonomi jangka pendek menciptakan ketidakseimbangan struktural dalam sistem pangan daerah.

“Ini bukan soal panen saja. Ketahanan pangan itu soal sistem lahan, air, petani, pasar, dan kebijakan. Kalau salah satu hilang, semuanya bisa runtuh,” ujar Lukmanul.

Sebagai langkah antisipasi, DPKP KBB pada 2025 akan fokus melakukan verifikasi dan perbaikan sistem irigasi primer, sekunder, dan tersier. Tujuannya untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang tersisa agar tetap produktif, dan tak sepenuhnya bergantung pada pompa air atau curah hujan.

Namun di sisi lain, tekanan terhadap lahan pertanian kian nyata. Harga tanah yang melambung dan ekspansi kawasan permukiman membuat petani sering kali tak punya daya tawar.

“Banyak petani yang akhirnya menjual tanahnya karena untuk kebutuhan mereka,” katanya.

Menjaga Sawah, Menjaga Masa Depan

Di tengah situasi itu, petani seperti Ali hanya berharap suara mereka didengar. Ia tahu, suatu hari nanti mungkin ia tak bisa lagi bertani jika tanah di sekitarnya terus hilang.

“Kalau sawah habis, kami kerja apa? Bukan cuma beras yang hilang, tapi juga hidup kami,” tandasnya. (Wit)

0 Komentar