JABAR EKSPRES – Proyek normalisasi drainase di wilayah Desa Rancaekekwetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung yang mangkrak terbengkalai menuai banyak sorotan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung tengah menggarap normalisasi saluran drainase perkotaan, di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, Kampung Rancabatok Desa Rancaekekwetan Kecamatan Rancaekek.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa mengatakan, proyek normalisasi drainase tersebut sepanjang 400 meter, namun klaimnya justru mengaku bahwa aktivitas hingga saat ini masih terus berjalan dan berprogres, sesuai tahap pengerjaan fisiknya.
Baca Juga:Fraksi PPP Sayangkan Gangguan Server Berulang di SPMB, Bukti Belum Siap Transformasi DigitalDiskominfo Tawarkan Layanan Telekomunikasi dan Wifi Publik Gratis di Kabogorfest 2025
“Diakui adanya kendala dalam pengerjaan. Salah satu di antaranya adalah banyak saluran drainase yang ditutup dengan coran beton oleh warga setempat, sehingga kami pun harus melakukan pembongkaran,” katanya, Rabu (11/6).
Selama ini, ujar Zeis, banjir di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya pada umumnya akibat saluran pinggir jalan yang tersumbat dan dinilai sulit penanganannya.
Kesulitan tersebut, menurut Kepala DPUTR Kabupaten Bandung, karena saluran drainase ditutup dengan coran beton oleh para pemilik bangunan di sepanjang jalan.
“Sehingga tindakan pembongkaran darurat untuk memperlancar aliran air pada saat hujan di saluran tersebut harus dilakukan,” ujarnya.
Diketahui, proyek normalisasi drainase di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya itu, sudah dilakukan pembongkaran, digarap sejak awal Maret 2025 lalu, namun sampai saat ini aktivitasnya terhenti alias mangkrak terbengkalai.
Dampaknya, dikarenakan jembatan di atas drainase menuju kios dan toko telah dibongkar, sedangkan perbaikan tak kunjung ada lanjutan, membuat sejumlah warga kesulitan beraktivitas akibat akses yang rusak.
Melalui pantauan Jabar Ekspres di lokasi, proyek yang katanya akan menormalisasi drainase, baru sebatas mengbongkar jembatan-jembatan di atas saluran air baik ke toko, kios, bengkel, material, rumah di pinggir jalan atau pun akses masuk menuju gang pemukiman.
Baca Juga:Camat Cibinong Resmikan Posyandu Tulip, Targetkan Zero StuntingLewat Videotron, PERSIB Umumkan “Wilujeng Sumping Saddil Ramdani”
Akibat jembatan di atas drainse telah dibongkar akses ke kios, toko, bengkel, rumah dan ke geng terganggu. Akhirnya warga membangun jembatan darutat dengan kayu.
Masih dalam pantauan, keluhan dan jeritan puluhan warga ini dilampiaskan dengan memasang sejumlah spanduk di lokasi proyek.
Spanduk di antaranya bertuliskan ‘Proyek Mangkrak Normaliasi Selokan’ dan ‘Mohon Tidak Lanjuti, Berani Bongkar, Berani Pasang’ serta tulisan ‘Katanya Membenahi Malah Ngarurujit (memperburuk)’.
