Setiap tahun, serangan ini rutin terjadi dan mengancam tanaman seperti padi dan kacang panjang. Namun, Yeti menyebutkan bahwa tahun ini terasa lebih parah dibanding sebelumnya.
“Tahun lalu, meskipun ada serangan hama, saya masih bisa mengatasinya dengan sedikit kerugian. Tapi kali ini, hama datang begitu besar, dan saya tidak bisa berbuat banyak,” ungkap Yeti.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu turut memperparah situasi. Penggunaan pestisida maupun cara alami pun menjadi kurang efektif.
Baca Juga:Emak-Emak Melek Teknologi Perkuat Kemandirian Ekonomi PerempuanBitcoin Mendekati Rekor, Indonesia Siap Jadi Raksasa Kripto Asia?
“Saya sempat coba pakai obat pembasmi hama, tapi sepertinya sudah terlambat. Populasi hamanya sudah terlalu banyak,” ujar Yeti.
Hama wereng umumnya menyerang pada fase perkembangan tanaman, terutama pada buah yang sedang tumbuh. Akibatnya, buah menjadi cacat, menguning, dan tidak berkembang sempurna. Selain itu, daun tanaman menjadi kering, sehingga hasil panen berkurang drastis.
“Saya sangat berharap ada solusi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini, supaya hasil panen bisa kembali maksimal,” harapnya.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi Yeti dan petani lainnya di wilayah tersebut.
Selain menimbulkan kerugian secara finansial, serangan hama juga mempengaruhi semangat para petani yang telah bekerja keras di lahan mereka.
“Kami para petani sudah sangat bergantung pada hasil pertanian ini, jadi ketika ada serangan hama seperti ini, rasanya sangat berat,” tandasnya. (Wit)
