5 Kelemahan Honda PCX Sebagai Motor Matic Premium Kebanggaan Kaum Menengah

Honda PCX
0 Komentar

Dalam beberapa tahun terakhir, tren desain di Jepang cenderung mengarah pada bentuk yang simpel dan membulat, sementara masyarakat Indonesia umumnya lebih menyukai desain yang sporty dengan garis-garis tajam dan tegas.

Perbedaan selera ini bisa dilihat dari kasus desain mobil Honda Jazz. Generasi Honda Jazz GK5, yang memiliki bentuk bodi runcing dan agresif, sempat menjadi mobil impian banyak anak muda di Indonesia.

Namun, saat para penggemar menanti penerus GK5, Honda Jepang justru memperkenalkan generasi baru, yakni Honda Fit, dengan desain yang kembali membulat seperti generasi awal GD3. Sampai hari ini, tren desain membulat masih menjadi ciri khas Honda di Jepang, bahkan mulai diikuti oleh beberapa pabrikan mobil lainnya.

Baca Juga:Mobil Nissan Dianggap Buruk dan Mogokan? Pahami Dulu PenyebabnyaPolemik Ijazah Palsu Jokowi dan Ancaman Pidana Penjara Bila Terbukti

Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia mobil, tetapi juga merambah ke sepeda motor. Motor-motor keluaran Jepang kini banyak yang tampil dengan desain membulat dan elegan. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Honda PCX kurang diterima oleh sebagian besar konsumen di Indonesia: desainnya yang membulat dinilai kurang sporty dan tidak sesuai dengan selera mayoritas pasar.

Namun, jika dinilai secara objektif, sebenarnya Honda PCX memiliki desain yang elegan dan penyampaian konsep desainnya pun cukup berhasil. Hanya saja, perbedaan perspektif inilah yang membuat motor ini sering kali mendapat kritik.

  1. Komstir PCX

Sayangnya, kritik terhadap Honda PCX tidak berhenti pada desain saja. Ada beberapa aspek teknis lain yang juga menuai keluhan, salah satunya adalah bagian komstir. Banyak pengguna mengeluhkan komstir PCX yang mudah rusak dan cukup merepotkan saat harus diganti. Proses penggantian komstir pada motor ini memerlukan pelepasan bagian bodi halus, yang otomatis membuat proses pengerjaannya menjadi lebih lama. Rata-rata, penggantian komstir bisa memakan waktu hingga dua jam.

Selain waktu pengerjaan yang cukup lama, biaya penggantian komstir juga terbilang tinggi. Di beberapa bengkel umum, biaya yang dikenakan bisa mencapai Rp300.000. Di dealer resmi pun biayanya tidak jauh berbeda. Meskipun ada bengkel yang menawarkan harga lebih murah, setidaknya konsumen harus mengeluarkan dana minimal Rp100.000. Masalah komstir ini menjadi keluhan serius karena urusan yang seharusnya sederhana justru menjadi ribet dan mahal.

0 Komentar