5 Cara Memasuki Kehidupan Si Kaya dan Si Miskin Sekaligus Tanpa Penghalang

Cara Memasuki Kehidupan Si Kaya dan Si Miskin
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, ada satu jurang yang terus melebar—jurang antara si kaya dan si miskin. Dan jurang itu bukan hanya soal pendapatan atau gaya hidup, tapi juga soal komunikasi. Mengapa dua kelompok ini jarang sekali duduk dan mengobrol layaknya manusia biasa?

Sering kali, jawabannya bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu bagaimana memulainya. Kita hidup dalam dunia yang kian terkotak-kotak. Si kaya sibuk di lingkarannya sendiri, si miskin juga demikian.

Padahal, di antara mereka mungkin ada kekaguman yang tak pernah diucapkan. Si miskin ingin bisa seperti si kaya, sementara si kaya mengagumi ketulusan dan kesederhanaan si miskin. Namun, karena masing-masing membawa luka, asumsi, dan pertahanan diri, mereka hanya bisa saling menatap dari kejauhan.

Baca Juga:Uang Koin Kuno Jimat Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Penjelasan IlmiahBocoran Spesifikasi Infinix Note 50X 5G Plus Sebagai Smartphone Standar Militer Harga 2 Jutaan

Yang ironis, bukan hanya uang yang membuat jarak itu makin tebal. Media sosial, ego, dan budaya yang kita pelihara secara tak sadar pun ikut memperparah.

Coba buka Instagram atau TikTok. Penuh dengan konten yang memamerkan liburan, mobil mewah, rumah megah. Sebagian besar penontonnya adalah orang biasa yang akhirnya merasa makin jauh, makin tidak nyambung. Lebih parah lagi, algoritma media sosial memperkuat jurang itu. Ia terus menyajikan konten yang memicu rasa iri, rendah diri, bahkan marah. Akhirnya, bukan koneksi yang terbentuk, melainkan frustrasi.

Kemudian ada ego. Ego yang licik. Si miskin mungkin berkata, “Untuk apa berbicara dengan mereka, pasti hanya ingin menyombongkan diri.” Sebaliknya, si kaya berpikir, “Untuk apa berbicara dengan mereka? Nanti ujung-ujungnya minta tolong.” Padahal, belum tentu kedua dugaan itu benar. Namun karena prasangka telah lebih dulu berbicara, obrolan yang sehat pun tak pernah terjadi.

Kita juga hidup dalam masyarakat yang sangat hierarkis. Ada strata sosial yang tidak tertulis, tetapi semua orang menyadarinya. Kita dibesarkan untuk segan terhadap yang lebih tinggi, dan secara tidak langsung menjauhi mereka yang dianggap lebih rendah.

0 Komentar