Hampir semua mobil Suzuki dapat dibeli dengan potongan harga. Faktanya, Suzuki Baleno hatchback mampu meraih angka penjualan yang baik—bukan semata-mata karena fiturnya, melainkan karena diskon besar yang ditawarkan. Harganya bahkan mendekati mobil-mobil Low Cost Green Car (LCGC), namun dengan spesifikasi yang berada satu tingkat di atas segmen tersebut.
Dengan pendekatan serupa, apakah Suzuki Fronx bisa bersaing di pasar Indonesia yang dikenal sebagai pasar yang penuh tuntutan dan banyak ekspektasi?
Jawabannya: mungkin bisa, mungkin juga tidak. Mari kita coba menganalisisnya secara logis, meski dengan pendekatan yang sedikit spekulatif.
Baca Juga:6 Batu Akik Paling Mahal di Indonesia Ini Memancarkan Kemewahan Luar Biasa10 Rekomendasi Wisata di Pangandaran Selain Pantainya yang Eksotis
Secara tampilan, desain Fronx mengingatkan kita pada Suzuki Vitara. Oleh karena itu, kita bisa mulai dengan melihat sejarah penjualan Vitara di Indonesia. Seperti diketahui, sebagian besar konsumen di Indonesia cenderung menilai desain terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan hal lainnya.
Sayangnya, Suzuki Vitara tidak pernah mencatatkan angka penjualan yang signifikan. Penjualannya cenderung lesu, bahkan di beberapa periode tampak tidak terdengar. Salah satu alasannya adalah karena posisi produk (positioning) yang membingungkan, serta harga yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan dengan nilai (value) yang ditawarkan.
Sebagai perbandingan, mari kita lihat Suzuki Baleno. Kenapa harus Baleno? Karena Fronx secara kasar adalah kembaran Baleno, hanya berbeda tampilan. Menariknya, Baleno justru mencatatkan angka penjualan yang cukup baik. Apa penyebabnya?
Pertama, desainnya menjadi lebih menarik setelah facelift.
Kedua, tentu saja—diskon besar.
Dari perbandingan ini, bisa disimpulkan bahwa nasib Fronx di Indonesia akan sangat bergantung pada strategi harga dan pemasaran.
Namun, kembali lagi pada persoalan positioning. Fronx terlihat seperti SUV compact, tetapi rasa berkendaranya lebih menyerupai hatchback. Jadi, apakah Fronx itu SUV compact atau hatchback? Inilah yang bisa menimbulkan kebingungan di pasar.
Bila diposisikan sebagai hatchback, ground clearance-nya terlalu tinggi. Tapi jika diposisikan sebagai SUV, dimensinya terlalu mungil dan rasa berkendaranya terlalu ringan.
Lalu siapa target pasarnya?
Jika menyasar keluarga muda, mungkin ruang kabinnya terasa kurang luas. Namun jika menyasar anak muda yang menyukai mobil untuk dikemudikan sendiri, Fronx bisa menjadi pilihan menarik. Meski demikian, perlu dicatat bahwa anak muda biasanya menginginkan performa, dan di sinilah Fronx tidak menawarkan sesuatu yang menonjol.
