“Bentuknya nanti berupa pole atau tiang, di situ ada beberapa sensor seperti sensor udara, kecepatan angin, sensor awan, dan kualitas udara. Semua sifatnya klimatologis,” bebernya.
Ia pun menegaskan kembali bahwa teknologi EWS untuk gempa belum ada yang mampu mendeteksi sebelum kejadian.
“Yang kami lihat itu aftershock. Jadi informasinya, misalnya, tiga menit lalu terjadi gempa di titik ini. Tidak pernah bisa memprediksi sebelum-sebelumnya, meskipun dipasang di titik rawan,” tandas Fitriandy. (Mong)
